TUGAS KAMPUS

Forum MT5 (1 Post = 0.2$ )

download makalah, skripsi, tesis dll.

download makalah, skripsi, tesis dll.


SKRIPSI PTK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MENGELOLA KONFLIK DENGAN CO-OP CO-OP

Posted: 12 Feb 2016 07:21 PM PST

(KODE : PTK-0574) : SKRIPSI PTK MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MENGELOLA KONFLIK DENGAN CO-OP CO-OP SISWA (KEWIRAUSAHAAN KELAS X SMK)


BAB II 
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Hasil Belajar
Salah satu tercapainya indikator tercapainya atau tidaknya suatu proses pembelajaran adalah dengan melihat hasil belajar yang dicapai oleh siswa. Hasil belajar merupakan cerminan tingkat keberhasilan atau pencapaian tujuan dari proses belajar yang telah dilaksanakan yang pada puncaknya diakhiri dengan evaluasi. Hasil belajar diartikan sebagai hasil akhir pengambilan keputusan tentang tinggi rendahnya nilai siswa selama mengikuti proses belajar mengajar, pembelajaran dikatakan berhasil jika tingkat pengetahuan siswa bertambah dari hasil sebelumnya (Djamarah dan Zain, 2010 : 25).
"Belajar merupakan tindakan dan perilaku siswa yang kompleks, sebagai tindakan maka belajar hanya dialami oleh siswa itu sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak terjadinya proses belajar , proses belajar terjadi berkat siswa mempelajari sesuatu yang ada di lingkungan sekitar" (Dimyati dan Mudijiono, 2009 : 7). Menurut pengertian tersebut, pembelajaran akan lebih mudah jika siswa terlibat langsung di dalam proses pembelajaran. Pengetahuan bukan hanya didapat dalam teori namun, siswa akan lebih mudah jika belajar melalui lingkungan di sekitar.
Sedangkan hasil belajar menurut Suharsimi (2006 : 3) sebagai "hasil yang telah dicapai seseorang setelah mengalami proses belajar dengan terlebih dahulu mengadakan evaluasi dari proses belajar yang melakukan". Hasil belajar dapat dikatakan tuntas apabila telah memenuhi kriteria ketuntasan minimal yang ditetapkan oleh masing-masing guru mata pelajaran, hasil belajar sering digunakan dalam arti yang luas yakni, ulangan harian, tugas-tugas pekerjaan rumah, test lesan yang dilakukan selama pelajaran berlangsung, ulangan akhir semester dan sebagainya.
Anni (2009 : 4) dalam bukunya mengemukakan "hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar". Sedangkan Sudjana (2005 : 22) mengemukakan "hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya".
Berdasarkan beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu kemampuan atau keterampilan yang dimiliki oleh siswa setelah siswa tersebut mengalami aktivitas belajar. Hasil belajar ditandai dengan adanya perubahan baik segi akademik maupun non-akademik siswa. Hasil belajar digunakan sebagai indikator keberhasilan dalam pembelajaran. Semakin baik hasil belajar maka pembelajaran dikatakan berhasil, begitupun sebaliknya semakin rendahnya hasil belajar siswa maka pembelajaran dikatakan kurang berhasil. 

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Hasil Belajar
Menurut Suhardjono dalam Suharsimi (2009 : 55) banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil belajar. Ada faktor yang dapat diubah (seperti cara mengajar, mutu rancangan, model evaluasi ujian dan lain-lain), ada pula faktor yang harus diterima apa adanya (seperti latar belakang siswa, gaji, lingkungan sekolah dan lain-lain).
Slameto (2003 : 54-60) mengemukakan faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa antara lain : 
1) Faktor internal (faktor dari dalam diri siswa), faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi tiga faktor yakni : 
a) Faktor jasmaniah : faktor kesehatan dan cacat tubuh
b) Faktor psikologis : intelegensi bakat, motif, kematangan serta kesiapan.
c) Faktor kelelahan : faktor kelelahan jasmani dan kelelahan rohani
2) Faktor eksternal (faktor dari luar diri siswa, faktor yang berasal dari luar diri siswa sendiri terdiri dari tiga faktor yaitu : 
a) Faktor keluarga : cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah dan keadaan ekonomi keluarga
b) Faktor sekolah : model mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pengajaran, waktu sekolah, standar pelajaran diatas ukuran, keadaan gedung, model belajar serta tugas rumah.
c) Faktor masyarakat; kesiapan siswa dalam masyarakat, media masa, teman bergaul dan bentuk kehidupan masyarakat.
Sardiman (2007 : 39-47) mengemukakan "faktor-faktor yang mempengaruhi belajar adalah faktor internal (dari dalam) diri siswa dan faktor eksternal (dari luar) diri siswa". Berkaitan faktor dari dalam diri siswa, selain faktor kemampuan, ada juga faktor lain yaitu motivasi, minat, perhatian, sikap, kebiasaan belajar, ketekunan, kondisi sosial ekonomi, kondisi fisik dan psikis. Keberadaan faktor psikologis akan senantiasa memberikan landasan dan kemudahan dalam upaya mencapai tujuan belajar secara optimal.
Thomas, F. Staton dalam Sardiman (2007 : 39) menguraikan enam macam faktor psikologis yaitu (1) memotivasi, (2) konsentrasi, (3) reaksi, (4) organisasi, (5) pemahaman, (6) ulangan. Dari beberapa pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa adalah faktor internal siswa antara lain kemampuan yang dimiliki siswa tentang materi yang akan disampaikan, motivasi, serta perhatian siswa, sedangkan faktor eksternal antara lain strategi pembelajaran yang digunakan guru di dalam proses belajar mengajar, media pembelajaran serta kondisi lingkungan baik sekolah maupun masyarakat. 

C. Mengukur Hasil Belajar
Djamarah dan Zain (2010 : 107) mengemukakan bahwa untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran dibagi atas beberapa tingkatan taraf sebagai berikut : 
1) Istimewa atau maksimal, apabila seluruh bahan pelajaran dapat dikuasai oleh siswa
2) Baik sekali atau optimal, apabila sebagian besar bahan pelajaran dapat dikuasai 76%-99%
3) Baik atau minimal, apabila bahan pelajaran hanya dikuasai 60%-75%
4) Kurang, apabila bahan pelajaran yang dikuasai kurang dari 60%
Sehubungan dengan hal diatas, hasil pembelajaran dilaksanakan benar-benar baik apabila memiliki ciri-ciri : 
1) Hasil itu tahan lama dan dapat digunakan dalam kegiatan yang dilakukan oleh siswa
2) Hasil itu merupakan pengetahuan asli atau otentik
Penilaian bertujuan untuk mengetahui hasil belajar atau pembentukan kompetensi peserta didik. Standar nasional pendidikan mengungkapkan bahwa penilaian hasil belajar oleh pendidikan dilakukan secara berkesinambungan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil dalam bentuk penilaian harian, penilaian tengah semester, penilaian akhir semester, dan penilaian kenaikan kelas.

download makalah, skripsi, tesis dll.

download makalah, skripsi, tesis dll.


SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN REASONING AND PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA MATERI POKOK SPLDV

Posted: 11 Feb 2016 07:18 PM PST

(KODE : PTK-0573) : SKRIPSI PTK PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN REASONING AND PROBLEM SOLVING UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN KEAKTIFAN BELAJAR SISWA MATERI POKOK SPLDV (MATEMATIKA KELAS VIII)


BAB II 
LANDASAN TEORI

A. Pengertian Belajar
Belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang dilakukan secara sadar untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Proses perubahan tingkah laku ini ditandai dengan adanya peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap.
Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku, bertambahnya pengetahuan, bertambahnya keterampilan, dan meningkatnya mutu sikap seseorang terhadap suatu hal bila dibandingkan keadaan sebelumnya. Sedangkan hasil belajar adalah adanya perubahan tingkah laku, bertambahnya pengetahuan, bertambahnya keterampilan, dan meningkatnya mutu sikap seseorang terhadap suatu hal bila dibandingkan keadaan sebelumnya. Sehingga dapat diartikan bahwa belajar adalah proses perubahan tingkah laku yang ditandai dengan meningkatnya mutu sikap seseorang terhadap suatu hal bila dibandingkan dengan keadaan sebelumnya.
Menurut Gagne dalam Ngalim Purwanto (1990 : 84) menyatakan bahwa belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatan (performance-nya) berubah dari waktu sesudah ia mengalami situasi tadi. Dengan pernyataan ini belajar akan dapat terlaksana apabila situasi stimulus dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sehingga terjadi perubahan perbuatan. Upaya untuk membelajarkan siswa adalah dengan memberikan stimulus pada siswa sehingga mempengaruhi pembahan perbuatan setelah adanya stimulus yang diberikan.
Sedangkan ahli belajar modern mengemukakan dan merumuskan dalam Oemar Hamalik (1990 : 27) belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman (learning is define as modification or strengthening of behavior through experiencing). Menurut pengertian ini, belajar merupakan suatu proses, suatu kegiatan dan bukan suatu hasil atau tujuan. Belajar bukan hanya mengingat, akan tetapi lebih luas dari itu, yakni mengalami. Hasil belajar bukan suatu penguasaan hasil latihan melainkan pengubahan kelakuan.

B. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar
Telah dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses yang menimbulkan terjadinya pembahan tingkah laku dan atau pengetahuan. Keberhasilan belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor. Adapun faktor tersebut dapat dibedakan menjadi dua golongan : 
1. Faktor yang ada pada diri sendiri yang disebut faktor individual.
Hal-hal yang termasuk ke dalam faktor individual antara lain : kematangan/pertumbuhan, kecerdasan, latihan, motivasi, dan faktor pribadi.
2. Faktor yang ada di luar individu yang disebut dengan faktor sosial.
Hal-hal yang termasuk ke dalam faktor sosial antara lain : faktor keluarga, guru dan cara mengajarnya, alat-alat yang dipergunakan dalam belajar mengajar, lingkungan dan kesempatan yang tersedia, dan motivasi sosial. Dengan adanya faktor yang mempengaruhi belajar, hasil yang akan dicapai dalam proses belajar tergantung pada faktor yang mempengaruhinya. Adanya ganjalan pada satu faktor akan mengakibatkan hasil yang diperoleh tidak maksimal, sehingga perlu adanya keseimbangan faktor dalam belajar.

C. Pengertian Mengajar
Mengajar adalah memberikan bimbingan belajar kepada siswa (Hamalik, 2001 : 50). Selain itu dijelaskan pula bahwa mengajar merupakan proses membantu siswa menghadapi kehidupan sehari-hari. Jadi dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu proses yang dilakukan oleh guru dalam rangka memberikan bimbingan belajar kepada siswa untuk menghadapi kehidupan sehari-hari.
Pemberian bimbingan menjadi kegiatan mengajar yang utama. Siswa sendiri yang melakukan kegiatan belajar seperti mendengarkan ceramah, membaca buku, melihat demonstrasi, dan sebagainya. Sedangkan peranan guru yakni mengarahkan, mempersiapkan, mengontrol dan memimpin siswa agar kegiatan belajarnya berhasil. Guru membantu siswa agar mampu mengatasi kesulitan-kesulitannya sendiri, dalam hal ini peranan guru adalah sebagai konselor.
Mengajar merupakan kegiatan yang mutlak memerlukan keterlibatan peserta didik. Karena itu, kegiatan mengajar tidak lepas dari kegiatan belajar sehingga dalam prosesnya kegiatan yang terjadi adalah kegiatan belajar mengajar.

D. Ciri-ciri Belajar Mengajar
Sebagai suatu proses pengaturan, kegiatan belajar mengajar tidak lepas dari ciri-ciri tertentu, yang menurut Edi Suardi dalam Djamarah (2006 : 39-40) sebagai berikut : 
1. Belajar mengajar memiliki tujuan, yakni untuk membentuk anak didik dalam suatu perkembangan tertentu.
2. Ada suatu prosedur (jalannya interaksi) yang direncanakan, didesain untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
3. Kegiatan belajar mengajar ditandai dengan satu penggarapan mated yang khusus.
4. Ditandai dengan aktivitas anak didik.
5. Dalam kegiatan belajar mengajar, guru berperan sebagai pembimbing.
6. Dalam kegiatan belajar mengajar membutuhkan disiplin.
7. Ada batas waktu.
8. Evaluasi.

download makalah, skripsi, tesis dll.

download makalah, skripsi, tesis dll.


SKRIPSI PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TEAM GAME TOURNAMENT PADA PERMAINAN BOLA BASKET

Posted: 10 Feb 2016 07:15 PM PST

(KODE : PTK-0572) : SKRIPSI PTK PENERAPAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF MODEL TEAM GAME TOURNAMENT PADA PERMAINAN BOLA BASKET (PENJAS KELAS IX)


BAB II 
LANDASAN TEORI

A. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Undang-Undang Republik Indonesia No 3 Tahun 2005 Tentang Sistem Keolahragaan Nasional Bab I Pasal 1 ayat 11 telah menyebutkan bahwa : Olahraga Pendidikan adalah Pendidikan Jasmani dan Olahraga yang dilaksanakan sebagai bagian proses pendidikan yang teratur dan berkelanjutan untuk memperoleh pengetahuan, kepribadian, keterampilan, kesehatan, dan kebugaran jasmani (Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga RI 2005 : 4).
Pendidikan jasmani adalah suatu proses pembelajaran melalui aktivitas jasmani yang di desain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotor, kognitif, dan afektif setiap siswa (BSNP 2006 : 1).
Materi mata pelajaran Penjasorkes SMP yang meliputi : pengalaman mempraktikkan keterampilan dasar permainan dan olahraga; aktivitas pengembangan; uji diri/senam; aktivitas ritmik; akuatik; dan pendidikan luar kelas (out door) disajikan untuk membantu siswa agar memahami mengapa manusia bergerak dan bagaimana cara melakukan gerakan secara aman, efisien dan efektif (BSNP 2006 : 1).
Olahraga merupakan bentuk lanjut dari bermain, dan merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan keseharian manusia. Untuk dapat berolahraga secara benar, manusia perlu dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan yang memadai. Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan diyakini dapat : 
Memberikan kesempatan bagi siswa untuk : (1) berpartisipasi secara teratur dalam kegiatan olahraga, (2) pemahaman dan penerapan konsep yang benar tentang aktivitas-aktivitas tersebut agar dapat melakukannya secara aman, (3) pemahaman dan penerapan nilai-nilai yang terkandung dalam aktivitas-aktivitas tersebut agar terbentuk sikap dan perilaku sportif dan positif, emosi stabil, dan gaya hidup sehat (BNSP 2006 : 1).
Pendidikan jasmani ialah : pendidikan yang mengaktualisasikan potensi aktivitas manusia yang berupa sikap tindak dan karya untuk diberi bentuk-isi-dan arah menuju kebulatan kepribadian sesuai dengan cita-cita kemanusiaan (Kosasih 1985 : 4).

B. Karakteristik Siswa Usia Sekolah Menengah Pertama (SMP)
Sekolah merupakan tempat belajar (formal) siswa selain lingkungan keluarga (in formal) dan linkungan masyarakat (non formal), meskipun interaksi sosial yang berlaku di sekolah biasanya tidak demikian mendalam dan sinambung seperti yang terjadi di lingkungan rumah tangga, pengaruh lingkungan sekolah terhadap perkembangan sosial siswa tentulah ada, dan bahwa peranannya itu cukup besar, yaitu : 
Di dalamnya berlangsung beberapa bentuk dasar dari kelangsungan "pendidikan" pada umumnya, yaitu pembentukan sikap-sikap dan kebiasaan-kebiasaan yang wajar, perangsang dari potensi-potensi anak, perkembangan dari kecakapan-kecakapannya pada umumnya, belajar bekerjasama dengan kawan sekelompok, melaksanakan tuntutan-tuntutan dan contoh-contoh yang baik, belajar menahan diri demi kepentingan orang lain, memperoleh pengajaran, menghadapi saringan, yang semuanya antara lain mempunyai akibat pencerdasan otak siswa, seperti yang dibuktikan dengan tes-tes inteligensi (Gerungan 1996 : 194).
Siswa usia sekolah menengah berada pada rentangan kategori siswa usia remaja, yang berada pada rentangan usia 12 tahun sampai 21 tahun bagi wanita, dan 13 tahun sampai 22 tahun bagi pria. Jika dibagi atas remaja awal dan masa remaja akhir, maka masa remaja awal berada dalam usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun, dan masa remaja akhir dalam rentangan usia 17/18 tahun sampai 21/22 tahun (Djamarah 2002 : 107). Jadi anak usia sekolah menengah pertama berada pada usia remaja awal yaitu usia 12/13 tahun sampai 17/18 tahun.
Remaja dikenal sebagai masa pencarian dan penjelajahan identitas diri. Kekaburan identitas diri menyebabkan remaja berada di persimpangan jalan; tak tahu mau kemana dan jalan mana yang harus diambil untuk sampai pada jati diri yang sesungguhnya. Anak remaja tidak bisa lagi dimasukkan ke dalam golongan anak dan ia tidak dapat pula dimasukkan ke dalam golongan orang dewasa atau orang tua (Djamarah 2002 : 107).
Masa remaja tidak seperti pada masa anak, remaja perkembangan sosialnya semakin luas, remaja tidak lagi hanya berteman dengan siswa sebaya di sekitar rumahnya , tetapi ia sudah berhasrat untuk mencari teman lain di lingkungan yang lebih luas.
Usia remaja juga merupakan masa-masa berkembangnya fungsi-fungsi seksualitas. Dalam diri remaja sedang terjadi rangsangan kematangan seksual dan dorongan untuk mendapatkan kepuasan seksualitas, maka masa ini kecenderungan remaja untuk menghindari larangan norma sosial dan hukum positif.
Dari segi perkembangan kemampuan pikir remaja terdapat bukti-bukti hasil penelitian yang menyimpulkan bahwa pola dan cara berpikir remaja cenderung mengikuti pola dan cara berpikir orang dewasa. Ini mengisyaratkan untuk membicarakan suatu masalah pribadi maupun masalah sosial kemasyarakatan. Pendidikan remaja dapat didekati dengan pendekatan rasional. Tidak seperti siswa, remaja dapat memecahkan masalah yang kompleks secara rasional (Djamarah 2002 : 109).
Pada masa pra-pubertas, pubertas dan adolesensi, terdapat pertumbuhan jasmani yang sangat pesat. Anak menjadi cepat besar, bobot badannya naik dengan pesat, panjang badannya bertambah dengan cepat; makannya banyak, dan aktivitasnya bertambah. Bersamaan dengan pertumbuhan badan yang sangat pesat, berlangsung pula perkembangan intelektual yang sangat intensif; sehingga minat anak pada dunia luar sangat besar (Kartono 1989 : 34).
"Indek Anatomis" dari Baldwin yang melakukan pengukuran terhadap tulang-tulang siswa secara rontgenologis menunjukkan bahwa, tulang-tulang pada siswa usia 10-15 tahun juga tumbuh dengan cepat sekali (Kartono 1989 : 34). Sehubungan dengan pertumbuhan tulang belulang dan jasmani yang sangat pesat ini, biasanya sejak berumur 10 tahun daya tahan anak terhadap bermacam-macam penyakit serta infeksi tumbuh secara maksimum, sehingga kurve-mortalitas pada usia sekitar 10 tahun menunjukkan angka kematian yang terkecil, yang minimal (Kartono 1989 : 34).
Daya tahan anak yang besar dan pertumbuhan jasmani yang sangat pesat itu, maka orang menandai periode ini dengan vitalitas yang sangat besar. Oleh karena itu pada usia pra-pubertas dan pubertas yang menjadi pusat perhatian anak yaitu : sport, perlombaan-perlombaan, kegairahan berkelana, atau pergi bertamasya dengan berjalan kaki, naik gunung, menjelajahi pulau dan meneliti daerah-daerah baru (Kartono 1989 : 36).

download makalah, skripsi, tesis dll.

download makalah, skripsi, tesis dll.


SKRIPSI PTK THE USE OF MIND MAPPING STRATEGY TO IMPROVE STUDENTS ABILITY IN WRITING PROCEDURE TEXT

Posted: 09 Feb 2016 07:14 PM PST

(KODE : PTK-0571) : SKRIPSI PTK THE USE OF MIND MAPPING STRATEGY TO IMPROVE STUDENTS ABILITY IN WRITING PROCEDURE TEXT (BAHASA INGGRIS KELAS X)


CHAPTER II 
REVIEW OF RELATED LITERATURE

A. Review of Previous Study
In this subchapter, I would like to review some previous studies that support my view about the use of mind mapping strategy to improve students' ability in writing procedure text.
First, a study done by Mawadah (2009), She found that the teaching descriptive text to junior high school students of SMP Negeri 1 Pegandon by using mind mapping strategy was more effective than teaching descriptive text using conventional strategy. This experimental research used two classes as the sample of the research. The experimental group was taught by using mind mapping strategy and the control group was taught by using conventional strategy. The main purpose of the activities above is to make students easier in constructing a text.
Second, Sofyani Tyas Utami (2009) also did research about the use of prewriting strategies : Brainstorming and Mind Mapping in Essay Writing for tenth grade students of SMA Negeri 3 Salatiga. The use of brainstorming and mind mapping can help and motivate students to generate ideas and practice expressing thought in written form, so that it would be helpful for students in creating a text and get a satisfying work in writing. The students' achievement in writing recount text increased from the first meeting to the last meeting. The students' respond that were obtained through questionnaire showed that most of them agreed that using brainstorming and mind mapping could help them in improving their ability in writing recount text.
Third, Susanto (2008) gave description of determining the application of mind mapping method in teaching descriptive writing for the second grade students of SMU Negeri 1 Kajen. He found some advantages by applying mind mapping method in teaching descriptive text. First, the students are interested and motivated in exploring their ideas and imagination using mind mapping method since they found new things during learning process. Second, they might be encouraged to be active in classroom activity by asking the teacher or friends. Then, the last advantage is its simplicity to use mind mapping method by making a chart like a tree diagrams. The students understand, memorize and remember the main idea and relative words easily.
The writer knew that every method has its advantages and weaknesses. The first weakness in applying mind mapping method is that writer must have broad knowledge especially in vocabularies and diction (choice of words). The students liked to ask English translation the difficult words related to the topic. They should bring a dictionary to help them in translating words because it would spend more times if they asked to the teacher continuously. The second one is that spends more paper sheets to do the test because they do two steps before they make the final draft of the descriptive text. The advantage in applying mind mapping method is the students can automatically enrich their vocabularies by searching branches and related ideas from the main topic.

B. Review of Theoretical Background
1. Language Skill
It has been described in the background of the study that language competence is actually important to be achieved by everyone. Listening, reading, speaking and writing are the four basic skills of language that students should learn in order to be able to communicate as well. A good language teaching is absolutely important especially in delivering materials of those four skills. Most of us know that there are various teaching strategies or methods that have been found and implemented to develop students' mastery of those four basic skills due to the importance of each skill for the students' future life.
2. Writing Skill
Nowadays we can see that writing is one of the four basic skills of language which has an important role in many aspects of life. Using writing we can learn lot of things from the simplest thing until a complex one. If we have ideas, desires and everything to explain, writing can be used as an instrument that makes somebody else understand what we want to explain. In short, we can say that writing pays an important role in our life.
Hammer (2004 : 3) states that "being able to write is a vital skill for 'speaker' of a foreign language as much as for everyone using their own first language". In line with Hammer's opinion, Ramelan (1994 : 11) states that "writing is very important as a part of man's culture because it can be used to preserve thought, ideas, and also speech sound". White (1980 : 8) suggests three points about the importance of writing. They are : (1) the linguists become interested in studying the characteristics of written language as well as spoken language, (2) teachers of English become increasingly concerned with the need to teach writing to students of science and technology, for whom ability to use the spoken language might be secondary or even irrelevance, (3) coinciding with the increased interest in written language by both linguists and English teachers had been a considerable growth in the study of language beyond the sentences, that was on discourse. From those statements we can draw a conclusion that everybody should have a good writing ability because of its importance for the time being and their future life.
According to Meyers (2005 : 1), "the word writing coming from a verb. Writing is a way to produce language, which you do naturally when you speak. You say something, think of more you say, perhaps correct something you have said and than move on to the next statement". Writing is much different, except that you take more time to think about your subject, the person you'll be discussing it with and last but not least the purpose that you want to achieve in that discussion.
Therefore, if you are writing a second language, you'll be revising your work continuously. You have to pay more attention to your diction (choice of word), form and grammar to make sure that they clearly express what you exactly want to say.
We know that writing skill is always used in most of examinations done at school from elementary up to university level. The importance of writing skill is obviously seen as something that must be emphasized because in daily communication language is not only spoken but also written. The different characteristics between spoken and written language are stated by Harmer (2004 : 6-11), as follows : 

download makalah, skripsi, tesis dll.

download makalah, skripsi, tesis dll.


SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN VISUAL SPASIAL MELALUI ALAT PERMAINAN EDUKATIF MAZE

Posted: 08 Feb 2016 07:10 PM PST

(KODE : PTK-0570) : SKRIPSI PTK UPAYA MENINGKATKAN KECERDASAN VISUAL SPASIAL MELALUI ALAT PERMAINAN EDUKATIF MAZE PADA KELOMPOK B TK (PGPAUD)


BAB II 
KAJIAN TEORI DAN HIPOTESIS

A. Kecerdasan Visual Spasial 
1. Pengertian Kecerdasan Visual Spasial
Menurut Gardner (dalam Sujiono, 2009 : 176) menyatakan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan untuk menyelesaikan masalah, menciptakan produk yang berharga dalam satu atau beberapa lingkungan budaya masyarakat. Kecerdasan menurut Gardner (dalam Musfiroh, 2008 : 36) adalah kemampuan untuk menyelesaikan masalah atau produk yang dibuat dalam satu atau beberapa budaya. Sedangkan Bandler dan Grinder dalam DePotter (dalam Sujiono, 2009 : 176) kecerdasan merupakan ungkapan dari cara berpikir seseorang yang dapat dijadikan modalitas belajar. Dari beberapa pendapat diatas peneliti menyimpulkan bahwa kecerdasan adalah suatu kemampuan untuk menemukan jalan keluar dari suatu masalah.
Lain lagi yang dikatakan oleh Armstrong (dalam Sujiono, 2010 : 58) berpendapat bahwa visual spasial adalah kemampuan untuk memvisualisasikan gambar di dalam pikiran seseorang. Kecerdasan ini digunakan oleh anak untuk berfikir dalam bentuk visualisasi dan gambar untuk memecahkan suatu masalah atau menemukan jawaban. Sedangkan menurut Samsudin (2008 : 17) visual spasial merupakan kemampuan seseorang untuk melihat secara visual/ruang. Seseorang yang memiliki kecerdasan ini cenderung berfikir dalam pola-pola yang berbentuk gambar.
Anak usia dini sangat menyukai melihat peta, bagan, gambar, video, film sebagai media untuk belajar. Dan menurut Gunarti, Suryani, dan Muis (2010 : 2.25) visual spasial adalah kemampuan seseorang untuk memahami secara lebih mendalam hubungan antara objek dan ruang. Anak-anak ini memiliki kemampuan, misalnya mencipta imajinasi bentuk dalam pikirannya atau menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi, seperti dijumpai pada orang dewasa yang menjadi pemahat patung atau arsitek suatu bangunan. Dari beberapa pendapat diatas peneliti menyimpulkan bahwa kecerdasan visual spasial adalah kemampuan seseorang yang lebih peka terhadap ruang dan gambar.
Campbell dan Dickinson (dalam Yuliani 2010 : 58) menjelaskan bahwa tujuan materi program dalam kurikulum yang dapat mengembangkan kecerdasan visual spasial, antara lain penayangan video, gambar, menggunakan model (modeling), dan atau diagram.
Biasanya anak yang memiliki kecerdasan visual spasial adalah seorang anak yang memiliki kemampuan untuk memvisualkan gambar di dalam pikirannya atau seorang anak yang dapat memecahkan suatu masalah atau menemukan suatu jawaban dengan memvisualkan bentuk atau gambar (Aisyah, 2009 : 1.18). 

2. Cara Mengembangkan Kecerdasan Visual Spasial
Menurut Sujiono (2010 : 58) menguraikan bagaimana cara mengembangkan kecerdasan visual spasial pada anak sebagai berikut : 
a) Mencoret-coret, untuk mampu menggambar, anak memulainya dengan tahapan mencoret terlebih dahulu. Mencoret biasanya dimulai sejak anak berusia sekitar 18 bulan ini, pada dasarnya kegiatan mencoret merupakan sarana anak mengekspresikan diri. Meski apa yang digambarnya dalam coretannya belum tentu langsung terlihat isi pikirannya. Selain itu, kegiatan ini juga dalam melatih koordinasi tangan-mata anak.
b) Menggambar dan melukis, kegiatan menggambar dan melukis dapat dilakukan dimana saja, kapan saja dengan biaya yang relatif murah. Sediakan alat-alat yang diperlukan seperti kertas, pensil warna dan krayon. Biarkan anak melukis atau menggambar apa yang ia inginkan sesuai imajinasi dan kreativitasnya karena menggambar dan melukis merupakan ajang bagi anak untuk mengekspresikan diri.
c) Kegiatan membuat prakarya atau kerajinan tangan menuntut kemampuan anak memanipulasi bahan. Kreativitas dan imajinasi anak pun terlatih karenanya. Selain itu, kerajinan tangan dapat membangun kepercayaan diri anak.
d) Mengunjungi berbagai tempat, dapat memperkaya pengalaman visual spasial anak, seperti mengajaknya ke museum, kebun binatang, menempuh perjalanan alam lainnya.
e) Melakukan permainan konstruktif dan kreatif, sejumlah permainan seperti membangun konstruksi dengan menggunakan balok, maze, puzzle, permainan rumah-rumahan ataupun peralatan video, film, peta atau gambar, dan slide.
f) Mengatur dan merancang, kejelian anak untuk mengatur dan merancang, juga dapat diasah dengan mengajaknya dalam kegiatan mengatur ruang di rumah, seperti ikut menata kamar tidurnya. Kegiatan seperti ini juga baik untuk meningkatkan kepercayaan diri anak, bahwa ia mampu memutuskan sesuatu.
g) Pengenalan informasi visual, informasi visual mengacu pada pesan pengetahuan yang dituangkan dalam bentuk nonverbal. Pesan pengetahuan disampaikan dalam bentuk grafik/diagram dan denah.

3. Indikator Kecerdasan Visual Spasial Anak Usia Dini
Menurut Armstrong (dalam Musfiroh, 2010 : 4.7) Anak yang cerdas dalam visual spasial sangat peka tatanan dan peka terhadap perubahan tatanan itu dan anak memberikan reaksi. Mereka suka mengerjakan maze, dan permainan lain yang memerlukan ketajaman melihat. Anak-anak sering memanfaatkan waktu mereka untuk menggambar, merancang sesuatu, membangun balok-balok, lego atau melamun.
Kecerdasan visual spasial muncul pada masa kanak-kanak. Anak-anak yang cerdas dalam visual spasial peka terhadap bentuk dan peristiwa, mampu merekam bentuk-bentuk tersebut dalam memorinya, serta memanggilnya dalam bentuk melamun, menggambar atau menyatakan dalam kata-kata. Anak-anak mampu mendeskripsikan peristiwa dengan urutan-urutan yang jelas dan terperinci. Anak-anak yang cerdas dalam visual spasial mampu melihat bentuk, warna, gambar, tekstur secara lebih detail dan akurat.
Anak yang mengalami perkembangan kecerdasan visual spasial yang sangat menonjol kadang mengalami kesulitan mengidentifikasi simbol bahasa tertulis. Anak-anak mengerti simbol sebagai gambar dan melihatnya dari berbagai perspektif, yang hal tersebut tidak berlaku dalam dunia simbol linguistik. Kecerdasan visual spasial memiliki indikator sebagai berikut : 
1. Individu yang cerdas secara visual spasial (lebih) mudah membaca peta, gambar, grafik, dan diagram.
2. Individu yang cerdas secara visual spasial menonjol dalam seni lukis dan seni kriya.
3. Individu yang cerdas secara visual spasial mampu memberikan gambaran visual yang jelas ketika sedang memikirkan sesuatu.
4. Individu yang cerdas secara visual spasial mampu menggambar sosok orang atau benda menyerupai aslinya.
5. Individu yang cerdas secara visual spasial film, slide, gambar dan foto.
6. Individu yang cerdas secara visual spasial menikmati permainan yang membutuhkan ketajaman, seperti zigzag, maze.
7. Anak memiliki kepekaan terhadap warna, cepat mengenali warna dan mampu memadukan warna dengan lebih baik dari pada anak-anak sebayanya.
8. Anak suka menjelajah lokasi di sekitarnya dan memperhatikan tata letak benda-benda di sekitarnya, serta cepat menghafal letak benda-benda.

Cari Skripsi | Artikel | Makalah | Panduan Bisnis Internet Disini

Custom Search
 

Mybloglog

blogcatalog

Alphainventions.com

Followers

TUGAS KAMPUS Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template