TUGAS KAMPUS: SKRIPSI KESEHATAN

Forum MT5 (1 Post = 0.2$ )

Showing posts with label SKRIPSI KESEHATAN. Show all posts
Showing posts with label SKRIPSI KESEHATAN. Show all posts

PEMBERIAN IMUNISASI POLIO

HUBUNGAN ANTARA PENGETAHUAN DAN SIKAP
IBU BAYI DENGAN PRAKTIK KELENGKAPAN
PEMBERIAN IMUNISASI POLIO
DI PUSKESMAS

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT

A. Latar Belakang
Kesehatan sebagai salah satu unsur kesejahteraan umum perlu diwujudkan sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945 melalui pembangunan nasional yang berkesinambungan berdasarkan Pancasila dan UUD 1945. keberhasilan pembangunan kesehatan sangat dipengaruhi oleh tersedianya sumber daya manusia yang sehat, terampil dan ahli, serta disusun dalam suatu program kesehatan dengan perencanaan terpadu yang didukung oleh data dan informasi epidemiologi yang valid. (1)

Pada bulan Mei tahun 2005 ditemukan kasus polio di Sukabumi dengan jumlah penderita dua orang. Dua orang yang dinyatakan positif polio adalah seorang anak berusia sembilan bulan dari Desa Cidadap dan seorang anak berusia 30 bulan dari Desa Cipondoh, Kecamatan Cicurug(2). Menurut Undang-undang no. 4 tahun 1984 tentang penanggulangan wabah, orang tua yang tidak membawa balitanya untuk mendapat imunisasi polio, dapat dikenai sanksi. Sanksi yang diberikan dapat berupa denda sampai ancaman kurungan penjara selama satu tahun.(3)

Imunisasi sebagai salah satu upaya preventif untuk mencegah penyakit melalui pemberian kekebalan tubuh harus dilaksanakan secara terus-menerus, meyeluruh dan dilaksanakan sesuai standar sehingga mampu memberikan perlindungan kesehatan dan memutus mata rantai penularan. Salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah poliomielitis. Poliomielitis adalah penyakit pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh satu dari 3 virus yang berhubungan yaitu virus polio tipe 1, 2 atau 3. secara klinis penyakit polio adalah anak dibawah umur 15 tahun yang menderita lumpuh layu akut (acute flaccid paralysis = AFP). Penyebaran penyakit adalah melalui kotoran manusia (tinja) yang terkontaminasi. Kelumpuhan dimulai dengan gejala demam, nyeri otot dan kelumpuhan terjadi pada minggu pertama sakit. Kematian bisa terjadi jika otot-otot pernapasan terinfeksi dan tidak segera ditangani. (4)

Dalam sidang majelis kesehatan sedunia atau World Health Assembly tahun 1988, negara-negara anggota (WHO), termasuk Indonesia, telah menyepakati pencapaian eradikasi polio atau pembasmian polio. Meskipun tahun 2000 ditargetkan sebagai tahun pencapaian eradikasi polio global akan tetapi pada kenyataannya hingga tahun 2003 masih ada beberapa wilayah regional Asia Tenggara atau South East Asian Region, dimana Indonesia terletak masih terdapat kasus polio. Indonesia direncanakan akan mencapai sertifikasi bebas polio tahun 2005. (5)

Polio merebak di Indonesia melalui anak-anak yang belum diimunisasi. Angka rata-rata dari cakupan imunisasi rutin di Indonesia adalah 70%, yang mengakibatkan sejumlah besar anak-anak tidak terlindungi dari penyakit ini. Pada kenyataanya angka cakupan imunisasi rutin tersebut menurun secara perlahan tapi pasti selama beberapa tahun terakhir. Terdapat beberapa daearah di tanah air yang angka imunitasnya bahkan lebih rendah lagi, yakni masyarakat yang paling miskin dan paling terpinggirkan. Karena penyakt polio pada umumnya tidak menunjukkan gejala-gejala apapun, sangatlah mudah bagi penyakit tersebut untuk beredar dari satu tempat ke tempat lainnya secara diam-diam melalui tubuh para penderitanya yang tidak menyadari jika dirinya telah terjangkit. Kenyataan ini menunjukkan betapa pentingnya untuk menjaga angka cakupan imunisasi rutin sebagai pertahanan nasional yang ampuh terhadap penyakit menular ini.(6)

Pada tahun 2005 angka kasus polio di Indonesia sebanyak 295 kasus. Di Propinsi Jawa Tengah terdapat 104 kasus polio. Sedangkan di Kabupaten Pati dari 152 penderita lumpuh layuh hanya 4 00rang yang positif terkena polio(7).

Pekan Imunisasi Nasional (PIN) merupakan suatu upaya yang dilaksanakan serentak secara nasional untuk mempercepat pemutusan siklus kehidupan virus polio importasi dengan cara memberikan vaksin polio kepada setiap balita termasuk bayi baru lahir tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi dilakukan 2 (dua) kali masing-masing 2 (dua) tetes dengan selang waktu 1 (satu) bulan. Pemberian imunisasi polio pada waktu PIN disamping untuk memutus rantai penularan, juga berguna sebagai booster atau imunisasi ulangan polio. Pekan Imunisasi Nasional (PIN) adalah Pekan dimana setiap balita termasuk bayi baru lahir yang bertempat tinggal di Indonesia diimunisasi dengan vaksin polio, tanpa mempertimbangkan status imunisasi sebelumnya. Pemberian imunisasi dilakukan 2 kali masing-masing 2 tetes dengan selang waktu satu bulan (1).

Perilaku ibu juga sangat berpengaruh pada kesehatan anaknya. Perilaku ibu yang berhubungan dengan kesehatan anaknya adalah dengan memberikan imunisasi kepada anak. Sudah menjadi kewajiban orang tua untuk melengkapi imunisasi secara penuh dan sempurna bagi anaknya. Pencapaian target imunisasi yang belum sesuai dengan yang diharapkan disebabkan oleh faktor pengelolaan program dan berkaitan dengan perilaku ibu yaitu keikutsertaan ibu (8).

Pendidikan merupakan faktor yang melatarbelakangi pengetahuan. Seorang yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi akan mempunyai tingkat pengetahuan yang lebih luas dibandingkan orang yang berpendidikan rendah (8.) Pengetahuan dilatarbelakangi oleh pendidikan. Jika pendidikan ibu meningkat maka pengetahuan, praktik dan usaha kesehatan bertambah baik(10). Pengetahuan akan membawa ibu untuk berpikir dan berusaha supaya anaknya tidak terkena polio. Dalam berpikir ini emosi dan keyakinan ikut bekerja sehingga ibu tersebut berniat mengimunisasikan anaknya untuk mencegah supaya anaknya tidak terkena polio. Sikap terhadap sakit dan penyakit adalah bagaimana penilaian atau pendapat seseorang terhadap gejala atau tanda-tanda penyakit, penyebab penyakit, cara penularan penyakit, cara pencegahan penyakit dan sebagainya (11). Sikap yang terbentuk dengan mengamati orang lain dapat menimbulkan sikap yang positif apabila menyenangkan atau sebaliknya. Si8kap seseorang dapat juga dipengaruhi oleh kebudayaan , tokoh agama, tokoh masyarakat, media massa, institusi atau lembaga tertentu serta faktor emosi dalam diri yang bersangkutan. Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau obyek, sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu(13).

Berdasarkan survey awal di puskesmas Gembong bulan September 2007 diperoleh data terdapat 632 jumlah bayi yang menjadi sasaran imunisasi polio di puskesmas Gembong Pati. Target cakupan imunisasi polio di puskesmas gembong adalah 53 bayi setiap bulannya. Pada polio 1 bulan Juli jumlah bayi yang diimunisasi melebihi dari target yang ditertukan yaitu sebanyak 67 (10,6 %) bayi, sedangkan pada polio 1 bulan Agustus mengalami penurunan jumlah bayi yang diimunisasi yaitu sebanyak 44 (7,0 %) bayi. Pada polio 2 bulan Juli jumlah bayi yang diimunisasi kurang dari target yang ditentukan sebanyak 50 (7,9 %) bayi, sedangkan pada polio 2 bulan Agustus jumlah bayi yang diimunisasi naik menjadi 57 (7,9 %) bayi. Pada polio 3 bulan Juli jumlah bayi yang diimunisasi melebihi dari target yang ditentukan yaitu sebanyak 62 (9,8 %) bayi, sedangkan pada polio 3 bulan Agustus jumlah bayi yang diimunisasi turun menjadi 50 (7,9 %) bayi. Sedangkan pada polio 4 bulan Juli jumlah bayi yang diimunisasi melebihi target yang ditentukan sebanyak 84 (13,3 %) bayi, sedangkan pada polio 4 bulan Agustus jumlah bayi yang diimunisasi polio adalah 55 (8,7 %). Dari jumlah bayi sebanyak 632, cakupan imunisasi di Puskesmas Gembong Pati dari bulan Januari sampai bulan Agustus 2007 cakupan imunisasi polio baru mencapai 322 (50,9 %) bayi. Data tersebut diatas didapat dari bidan desa yang terdapat di 11 kelurahan di Kecamatan Gembong yang dilaporkan kepada puskesmas.

Dari teori perilaku yang dikemukakan oleh Lauwrence Green, terbentuknya perilaku seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor yang salah satunya ialah faktor predisposisi yang terdiri atas pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan nilai-nilai. Dari pengalaman dan penelitian terbukti bahwa perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Sikap secara nyata menunjukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi yang bersifat emosianal terhadap timulus sosial. Newcomb, ahli psikologi sosial, menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak, dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktifitas, tetapi merupakan predisposisi tindakan suatu perilaku. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek dilingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (11).
Berdasarkan hasil tersebut sebagai upaya untuk melaksanakan evaluasi terhadap pengetahuan dan sikap ibu yang berkaitan dengan praktik kelengkapan imunisasi polio maka penilis tertarik untuk melaksanakan penelitian “Hubungan pengetahuan dan sikap ibu bayi dengan praktik kelengkapan pemberian imunisasi polio di Puskesmas gembong Pati tahun 2008”.

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti mengambil perumusan masalah “adakah hubungan pengetahuan dan sikap ibu bayi dengan praktek kelengkapan pemberian imunisasi polio di wilayah kerja puskesmas Gembong Pati tahun 2008?”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan dan sikap ibu bayi dengan praktek kelengkapan pemberian imunisasi polio di puskesmas Gembong Pati tahun 2008.

2. Tujuan Khusus
a. Mendiskripsikan tingkat pengetahuan ibu bayi tentang kelengkapan pemberian imunisasi polio di puskesmas Gembong Pati tahun 2008.
b. Mendiskripsikan sikap ibu bayi tentang kelengkapan pemberian imunisasi polio di puskesmas gembong Pati tahun 2008.
c. Mengetahui hubungan pengetahuan ibu bayi dengan praktik kelengkapan pemberian imunisasi polio di puskesmas Gembong Pati tahun 2008.
d. Mengetahui hubungan sikap ibu bayi dengan praktik kelengkapan pemberian imunisasi polio di puskesmas Gembong Pati tahun 2008.

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti
Menambah pengalaman dalam melakukan penelitian dan evaluasi terhadap hasil penerapan atau pelaksanaan program pelayanan kesehatan masyarakat.

2. Bagi Pemerintah
Sebagai masukan bagi penerapan kebijakan program pelayanan kesehatan dalam peningkatan kualitas pelayanan terhadap masyarakat.

3. Bagi Civitas Akademika
Menambah khasanah ilmu pengetahuan khususnya dalam peneliatian aspek kualitas pelayanan kesehatan serta memotivasi penelitian serupa yang lebih mendalam.


Share

KEMAMPUAN PREDIKTIF EARNINGS DAN ARUS KAS

SKRIPSI
KEMAMPUAN PREDIKTIF EARNINGS DAN ARUS KAS DALAM MEMPREDIKSI ARUS KAS MASA DEPAN

ABSTRAKSI
Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris pengaruh laba dan arus kas terhadap arus kas operasi masa depan pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEJ. Dalam penelitian ini pengujian dibedakan antara perusahaan yang melaporkan laba dengan perusahaan yang melaporkan kerugian.

Data dalam penelitian ini merupakan data crossection. Sebanyak 83 perusahaan menjadi sampel untuk perusahaan yang melaporkan laba dan 51 perusahaan menjadi sampel untuk perusahaan yang melaporkan kerugian. Analisis hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah regresi berganda dan sebelum uji hipotesis telah dilakukan uji asumsi klasik.

Dari hasil pengujian secara parsial diperoleh nilai signifikansi untuk laba sebesar 0,000 dan arus kas sekarang sebesar 0,000 pada perusahaan yang melaporkan laba. Pada perusahaan yang melaporkan kerugian diperoleh nilai signifikansi untuk laba sebesar 0,022 dan arus kas sekarang sebesar 0,000. Hal ini menunjukkan bahwa laba dan arus kas operasi sekarang berpengaruh signifikan terhadap arus kas operasi masa depan, baik pada perusahaan yang melaporkan laba maupun pada perusahaan yang melaporkan kerugian. Hasil uji F mendapatkan nilai signifikansi 0,000 yang berarti bahwa semua variabel bebas secara bersama-sama mempengaruhi variabel terikat pada kedua jenis perusahaan.

Pengaruh laba dan arus kas operasi sekarang sebesar 30,7% pada perusahaan yang melaporkan laba. Sedangkan pada perusahaan yang melaporkan kerugian pengaruh laba dan arus kas operasi sekarang terhadap arus kas operasi masa depan sebesar 11,3%.

Kata kunci : laba bersih, arus kas operasi sekarang, arus kas operasi masa depan, perusahaan yang melaporkan laba, perusahaan yang melaporkan kerugian


BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Laporan keuangan yang dibuat perusahaan disajikan sebagai informasi yang menyangkut posisi keuangan perusahaan, laporan kinerja, perubahan posisi keuangan dan laporan aliran kas yang bermanfaat bagi para pemakainya, khususnya investor ataupun kreditor dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi.

Keputusan-keputusan ekonomi yang akan diambil oleh para pemakai laporan keuangan membutuhkan evaluasi terlebih dahulu atas kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba ( kas atau setara kas ), serta kepastian dari hasil tersebut. Para pemakai laporan keuangan dapat mengevaluasi kemampuan perusahaan dalam menghasilkan kas ( dan setara kas ) dengan lebih baik jika mereka mendapatkan informasi yang difokuskan pada posisi keuangan, laba, perubahan posisi keuangan dan laporan arus kas perusahaan

Untuk mencapai tujuan dapat dievaluasi tersebut diatas, maka IAI dalam Standar Akuntansi Keuangan mensyaratkan penyusunan laporan keuangan atas dasar konsep biaya historis (historical cost), pengakuan pendapatan, prinsip matching, dan prinsip pengungkapan secara lengkap, serta asumsi kesatuan usaha, kontinuitas usaha, penggunaan unit moneter dalam pencatatan dalam periode waktu. Sehingga laporan keuangan yang disajikan dapat memenuhi karakteristik kualitatif dapat dipahami, relevan, andal dan dapat dibandingkan. Meskipun kepentingan para pemakai berbeda-beda dan data atau informasi yang dibutuhkan juga berbeda-beda, namun pada tingkat minimum kebutuhan akan data kuantitatif perusahaan yang dapat menggambarkan posisi keuangan perusahaan pada saat tertentu dan hasil usaha untuk periode yang tertentu pula dapat dipenuhi dalam laporan keuangan tahunan perusahaan.

Sejauh ini laporan keuangan, khususnya neraca dan earnings masih diyakini sebagai alat yang andal bagi para pemakainya untuk mengurangi resiko ketidakpastian dalam pengambilan keputusan-keputusan ekonomi. Namun khusus laporan earnings sampai saat ini masih terdapat kontradiksi atas kesimpulan yang dihasilkan berkaitan dengan manfaat isi informasi yang dikandungnya (Syafriyadi, 2000)

Pelaporan keuangan merupakan salah satu bentuk pertanggungjawaban manajemen dalam pengelolaan sumber daya perusahaan terhadap berbagai pihak yang terkait dengan perusahaan selama periode tertentu. Menurut SFAC No.1, ada dua tujuan dari pelaporan keuangan yaitu pertama, memberikan informasi yang bermanfaat bagi investor, investor potensial, kreditor dan pemakai lainnya untuk membuat keputusan serupa lainnya. Kedua, memberikan informasi tentang prospek arus kas bersih perusahaan.

Di Indonesia, pelaporan arus kas mulai diwajibkan pada tahun 1994, dengan dikeluarkannya Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No. 2 paragraf 01 menyatakan bahwa perusahaan harus menyusun laporan arus kas dan harus menyajikan laporan tersebut sebagai bagian yang tidak terpisahkan ( integral ) dari laporan keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan (SAK, 1994)

Salah satu kegunaan informasi arus kas menurut PSAK No. 2 paragraf 03 yaitu meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi berbagai perusahaan karena dapat meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap transaksi dan peristiwa yang sama (SAK, 1994). Kemampuan arus kas untuk meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi ini merupakan salah satu alasan digunakannya arus kas sebagai sumber informasi oleh investor, selain informasi laba.


Tujuan utama informasi akuntansi yaitu menyediakan informasi yang berguna dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian bakal arus kas perusahaan. FASB dalam SFAC #1 menyatakan bahwa “Tujuan dari pelaporan keuangan merupakan titik tetap – dipengaruhi oleh ekonomi, hukum, politik, dan lingkungan sosial dari tempat laporan itu berada (Supriyadi,1999)

Hasil penelitian Finger (1994) menguji relevansi earnings untuk kemampuannya memprediksi earnings dan arus kas dimasa depan, menyimpulkan bahwa earnings merupakan signifikan sebagai prediktor earnings dimasa depan sampai dengan periode 8 tahun dimuka dan earnings baik digunakan secara parsial maupun bersama-sama dengan arus kas dalam periode jangka pendek ( 1 atau 2 tahun ) merupakan prediktor arus kas yang lebih baik dibandingkan earnings atas arus kas. Ditemukan juga bahwa earnings memberikan isi informasi inkremental dibanding arus kas. Bukti diatas mengindikasikan bahwa memang membantu dalam memprediksi earnings dan cash flow dimasa depan.

Pernyataan dalam FASB (SFAC No. 1, paragraph 43), bahwa laba merupakan prediktor arus kas yang lebih baik dibanding prediktor arus kas itu sendiri.
Hasil penelitian Parawiyati dan Baridwan (1998), dengan memasukkan faktor deflator ( consumer price index ) maupun tanpa faktor deflator, prediktor laba memberikan pengaruh yang lebih besar dalam memprediksi laba dan arus kas untuk periode satu tahun ke depan dibandingkan prediktor arus kas.
Hubungan antara laba dan arus kas yang digunakan merupakan prediktor yang signifikan dari arus kas operasi untuk sebagian besar perusahaan (Catherine A Finger, 1994). Informasi arus kas berguna untuk mengevaluasi perubahan struktur keuangan seperti likuiditas dan solvabilitas serta hubungannya dengan profitabilitas. Foster (1977) serta Watts dan Zimmerman telah menguji secara empirik hubungan laba akuntansi dengan arus kas, menyatakan bahwa proses menghasilkan laba akuntansi menunjukkan proses menghasilkan arus kas sehingga hubungan tersebut memiliki implikasi terhadap perubahan harga saham dihubungkan dengan unexpected earning. Laba dan arus kas merupakan keuntungan investasi modal (benefit of equity investment ).

Watson dan Wells (2005) dalam penelitiannya menyatakan bahwa untuk perusahaan yang berlaba, ukuran yang berbasis laba lebih baik dalam menangkap kinerja perusahaan dibandingkan arus kas, sedangkan untuk perusahaan yang merugi baik laba maupun arus kas tidak dapat menangkap kinerja perusahaan dengan baik.
Kim dan Kross (2002) juga membedakan antara perusahaan yang melaporkan laba positif dan laba negative, dan hasilnya menyatakan bahwa hubungan antara arus kas tahun berjalan dengan arus kas masa depan tidak meningkat maupun menurun.

Penelitian ini merupakan replika dari penelitian yang dilakukan oleh Yolanda Dahler Rahmat Febrianto (2006) tentang kemampuan prediktif earnings dan arus kas dalam memprediksi arus kas masa depan. Replika ini dimaksudkan untuk menguji kembali pengaruh laba dan arus kas terhadap arus kas masa depan dengan menggunakan model regresi linier berganda yaitu uji t dan uji F yang digunakan pada penelitian sebelumnya. Dalam penelitian kali ini, peneliti menggunakan laporan keuangan sebagai objek penelitian dengan periode pengamatan tahun 2003 sampai dengan tahun 2006

Berdasarkan hasil penelitian yang telah diuraikan di atas, maka di ambil suatu bahasan dalam pembuatan skripsi ini dengan judul : “ KEMAMPUAN PREDIKTIF EARNINGS DAN ARUS KAS DALAM MEMPREDIKSI ARUS KAS MASA DEPAN “ ( studi kasus pada perusahaan manufaktur yang terdaftar di BEI 2003 - 2006 )

1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut di atas maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Apakah Laba berpengaruh secara signifikan terhadap arus kas masa depan pada saat perusahaan melaporkan laba
2. Apakah Arus Kas berpengaruh secara signifikan terhadap arus kas masa depan pada saat perusahaan melaporkan laba
3. Apakah Laba berpengaruh secara signifikan terhadap arus kas masa depan pada saat perusahaan melaporkan rugi
4. Apakah Arus Kas berpengaruh secara signifikan terhadap arus kas masa depan pada saat perusahaan melaporkan rugi

1.3 Tujuan Penelitian
Dari rumusan masalah diatas, tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
1. Untuk menguji secara empiris pengaruh Laba terhadap arus kas masa depan pada saat perusahaan melaporkan laba
2. Untuk menguji secara empiris pengaruh Arus Kas terhadap arus kas masa depan pada saat perusahaan melaporkan laba
3. Untuk menguji secara empiris pengaruh Laba terhadap arus kas masa depan pada saat perusahaan melaporkan rugi
4. Untuk menguji secara empiris pengaruh Arus Kas terhadap arus kas masa depan pada saat perusahaan melaporkan rugi

1.4 Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam mengembangkan ilmu akuntansi, terutama dibidang pasar modal
b. Hasil penelitian ini diharapakan dapat melengkapi kajian teoritis dan sebagai bahan pertimbangan penelitian selanjutnya tentang laba dan arus kas dalam memprediksi arus kas masa depan

2. Manfaat Teknis
a. Bagi Penulis Dapat menambah wawasan dan pengetahuan di dunia kerja dan dapat menerapkan ilmu yang diperoleh dibangku kuliah kedalam dunia kerja nyata.
b. Bagi Peminat Investasi Dapat memberikan bantuan informasi bagi mereka dalam mengambil keputusan saat melakukan investasi, khususnya investasi saham di BEJ.
c. Bagi Akademis Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan tambahan literatur dan informasi bacaan, khususnya bagi mahasiswa.

1.5 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini merupakan garis besar penyusunan skripsi yang bertujuan memudahkan jalan pikiran dalam memahami secara keseluruhan isi skripsi. Sistematika skripsi ini terdiri dari lima bab, yaitu:
Bab I Pendahuluan,
Bab II Tinjauan Pustaka,

Bab III Metodologi Penelitian,
Bab IV Hasil dan Pembahasan, serta
Bab V Penutup.

Bab I Pendahuluan, dalam bab ini diuraikan beberapa pokok pikiran yang menjadi latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan sistematika penulisan skripsi.

Bab II Tinjauan Pustaka membahas tentang landasan teori, penelitian terdahulu, kerangka teoritis, dan hipotesis.

Bab III Metode Penelitian, berisi tetang variabel penelitian dan definisi operasional, penentuan populasi dan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data, dan metode analisis data.

Bab IV Hasil dan Pembahasan, berisi tentang deskripsi objek yang akan digunakan dalam penelitian, analisis data yang telah diambil, dan pembahasan berisi mengenai pengujian hipotesis dan masalah yang dikemukakan.
Bab V Penutup, bab ini merupakan bab terakhir yang berisi tentang kesimpulan dan saran yang diberikan penulis dari hasil yang telah didapat dari Bab IV.


DAFTAR PUSTAKA
Baridwan, Zaki. Intermediate Accounting , Edisi kedelapan . Cetakan Pertama BPFE , Yogyakarta.

Belkoui , Ahmed Riahi , 1987.”Teori Akuntansi.” Salemba Empat. Jakarta Badan Penerbit UNDIP. Semarang

Chariri , Anis dan Imam Ghozali,2001.”Teori Akuntansi.” Badan Penerbit UNDIP. Semarang.

Donald E dan Jerry J Weygandt , Kieso,1995.”Akuntansi Intermediate.” Jakarta : Binarupa Aksara.

Ghozali, Imam,2005.”Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.”Badan Penerbit Universitas Diponegoro : Semarang.

Harahap, Sofyan Syafri,1993.”Teori Akuntansi.”Edisi Pertama, Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.

Hendriksen,Eldon S,1999.”Teori Akuntansi.” Jakarta : Binarupa Angkasa.

Hepi Syafriadi,2000.”Kemampuan Earnings dan Arus Kas dalam Memprediksi Earnings dan Arus Kas Masa Depan.” Studi Bursa Efek Indonesia, Vol.2 No.1 hal 76-88.

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI),2004.”Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan.”Edisi Revisi,Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Ikatan Akuntansi Indonesia (IAI),2007.”Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan.”Edisi Revisi,Penerbit Salemba Empat, Jakarta.

Indriantoro, Nur dan Bambang Supomo,1999.”Metodologi Penelitian Bisnis untuk Akuntansi dan Manajemen.” BPFE, UGM Yogyakarta.

Kieso dan weygandt,1995.”Akuntansi intermediate.” Edisi ketujuh Jilid 3. Indonesia : Binarupa Aksara.

Kusuma, Poppy Dian Indira,2003.”Nilai Tambah Kandungan Informasi Laba dan Arus Kas Operasi.” SNA VI hal304-315.

Parawiyati dan Zaki Baridwan,1998”Kemampuan Laba dan Arus Kas dalam Memprediksi Laba dan Arus Kas Perusahaan Go Publik di Indonesia.”Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol.1

Suwardjono,1989.”Akuntansi Pengantar 1.”Edisi Pertama, Yogyakarta.

File download dibawah ini:
Download File



Share

PERSEPSI AKUNTAN PUBLIK

SKRIPSI
PERSEPSI AKUNTAN PUBLIK PRIA DAN WANITA TERHADAP ISU-ISU YANG BERKAITAN DENGAN AKUNTAN PUBLIK WANITA
ABSTRAKSI

Perbedaan jenis kelamin dalam lingkup pekerjaan kadang-kadang memberikan diskriminasi perlakuan yang berbeda baik terhadap hasil kerja maupun sistem penggajian dan faktor lainnya. Beberapa peneliti melakukan penelitian yang berfokus pada akuntan publik pria dan wanita. Isu-isu mengenai akuntan wanita yang berprofesi sebagai akuntan publik, sebenarnya tidak terlepas dari masalah gender. Sejarah perbedaan gender antara pria dan wanita terjadi melalui proses yang cukup panjang. Oleh karena itu terbentuknya perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksikan secara sosial, kultural, melalui ajaran keagamaan oleh negara. Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun yang menjadi persoalan ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan baik bagi kaum pria dan wanita.

Penelitian ini bertujuan untuk menguji secara empiris perbedaan persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap isu – isu yang berkaitan dengan akuntan publik wanita. Isu – isu yang digunakan dalam penelitian ini adalah kesempatan, perlakuan, penerimaan, komitmen dan akomodasi khusus.
Data dalam penelitian ini merupakan data kuesioner. Sebanyak 53 orang yang digunakan sebagai sampel dengan komposisi 30 orang akuntan publik pria dan 23 orang akuntan publik wanita. Analisis hipotesis yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Man - Whitney U dan sebelum uji hipotesis telah dilakukan uji validitas menggunakan uji r product momen dan uji reliabilitas menggunakan cronbach Alpha.

Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan antara persepsi akuntan publik pria dengan persepsi akuntan publik wanita terhadap isu perlakuan, penerimaan, komitmen serta akomodasi khusus. Hal ini terlihat dari hasil uji beda Man – Whitney U test kolom asymp. Sig sebesar 0.127 untuk perlakuan, sebesar 0.090 untuk Penerimaan, sebesar 0,233 untuk komitmen, serta sebesar 0,328 untuk akomodasi khusus sehingga hal ini menunjukkan terdapat perbedaan signifikan antara pesepsi akuntan publik pria dan wanita untuk perlakuan, penerimaan, komitmen, dan akomodasi khusus ditolak..Akan tetapi terdapat perbedaan signifikan antara persepsi akuntan publik pria dengan persepsi akuntan publik wanita terhadap isu kesempatan yang hasilnya sebesar 0,031 sehingga hal ini menyatakan terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan publik pria dan wanita terhadap kesempatan bagi akuntan publik wanita diterima.
Kata kunci : Persepsi terhadap isu, gender, Akuntan publik wanita.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah
Perbedaan jenis kelamin dalam lingkup pekerjaan kadang-kadang memberikan diskriminasi perlakuan yang berbeda baik terhadap hasil kerja maupun sistem penggajian dan faktor lainnya. Beberapa peneliti melakukan penelitian yang berfokus pada akuntan publik wanita dan pria. Perbedaan yang muncul adalah perbedaan aspek dan perhatian.

Praktik akutansi publik telah lama menjadi perhatian dan penelitian-penelitian substansial yang berfokus pada isu-isu mengenai akuntan publik wanita. Hal ini dikarenakan selama 20 tahun terakhir, jumlah wanita yang memasuki profesi akuntan publik telah meningkat secara drastis Trapp et al.(1989) dalam Yvonne (2004). Isu-isu mengenai akuntan wanita yang berprofesi sebagai akuntan publik, sebenarnya tidak terlepas dari masalah gender. Sejarah perjalanan wanita di bidang akuntansi merefleksikan suatu perjuangan panjang untuk mengatasi penghalang-penghalang dan batasan yang diciptakan oleh struktur sosial yang kaku, diskriminasi, pembedaan gender, ketidaksamaan konsep, dan konflik antara rumah tangga dan karir (Ried et al., 1987 dalam Yvonne (2004)).

Gender harus dibedakan dari pengertian dan batasan seks (Fakih,1996) dalam Ayu (1999). Pemahaman dan pembedaan terhadap jenis kelamin sangatlah diperlukan dalam melakukan analisis untuk memahami persoalan-persolan ketidakadilan sosial yang menimpa wanita. Hal ini disebabkan karena ada kaitan yang erat antara perbedaan gender (gender differences) dan ketidakadilan gender (gender inequalities) serta kaitannya terhadap ketidakadilan gender dengan struktur ketidakadilan masyarakat secara luas.

Terminologi jenis kelamin mengacu pada status reproduktif dan individual seseorang sebagai pria atau wanita atas dasar genital. Sedangkan gender mengacu pada status legal, sosial dan individual seseorang sebagai pria atau wanita, atau campuran dari keduanya, atas dasar kriteria perilaku fisik. Istilah penting lain yang berkaitan dengan gender adalah stereotip peran gender atau gender role stereotypeI, yaitu keyakinan mengenai karakteristik yang dianggap benar tentang pria dan wanita (Eccles and Hoffman, 1984) dalam Ayu (1999).

Sejarah perbedaan gender antara pria dan wanita terjadi melalui proses yang sangat panjang. Oleh karena itu terbentukya perbedaan gender dikarenakan oleh banyak hal, diantaranya dibentuk, disosialisasikan, diperkuat, bahkan dikonstruksi secara sosial, kultural, melalui ajaran keagamaan bahkan oleh Negara. Perbedaan gender sesungguhnya tidak menjadi masalah sepanjang tidak melahirkan ketidakadilan gender. Namun, yang menjadi persoalan, ternyata perbedaan gender telah melahirkan berbagai ketidakadilan, baik bagi pria maupun wanita. Ketidakadilan gender merupakan sistem dan struktur di mana baik kaum pria dan wanita menjadi korban dari sistem tersebut. Ketidakadilan gender termanifestasi dalam berbagai bentuk ketidakadilan, yakni: marginalisasi, proses pemiskinan ekonomi, subordinasi dalam pengambilan keputusan, stereotyping dan diskriminasi, pelabelan negatif, kekerasan (violence), bekerja lebih panjang dan memikul beban ganda ( Fakih, 1999 dalam Ayu,1999).

Isu mengenai pengaruh gender merebak dan meningkat di lingkungan kerja ketika terjadi perubahan komposisi pekerjaan berdasarkan jenis kelamin di perusahaan. Perubahan komposisi pekerjaan di lingkungan kerja mendorong para manajer untuk mempertimbangkan strategi dalam mengelola pengaruh gender terhadap kinerja personal (Abdurahim, 2000). Sejak tahun 1970-an, komposisi pegawai wanita di lingkungan pekerjaan menunjukkan perkembangan. Pegawai wanita telah banyak menunjukkan keberhasilannya dalam mengkombinasikan antara karir dan keluarga serta memasuki karir profesional pada lingkungan perusahaan didominasi oleh pria seperti profesi akuntan publik, hukum, industri dan perdagangan. Selanjutnya dalam penelitiannya dikatakan bahwa sampai sekarang para pekerja wanita belum menunjukkan keberhasilannya dalam menempati jabatan puncak dalam perusahaan.

Di Indonesia sendiri masuknya wanita di pasar kerja pada saat ini menunjukkan jumlah yang semakin besar, demikian dengan kecendrungan semakin banyaknya wanita karir (Susanne, 2003). Sementara itu, Hasibuan (1996) dalam Yvonne (2004) menyatakan bahwa meskipun partisipasi wanita dalam pasar kerja di Indonesia meningkat secara signifikan namun demikian masih ada diskriminasi dan menjadi masalah besar terhadap pekerja wanita.


Bidang akuntansi publik juga merupakan salah satu bidang yang tidak terlepas dari diskriminasi gender. Dalam suatu studi yang dilakukan oleh Walkup dan Fenzau (1980) dalam Yvonne (2004) dikatakan bahwa 41% dari responden yang mereka teliti yaitu para akuntan publik, merasakan adanya bentuk-bentuk diskriminasi yang telah mempengaruhi karir mereka. Sebaliknya, hanya 21% dari responden yang masih dipekerjakan dalam profesi ini, yang merasakan adanya diskriminasi.

Dalam penelitian ini indikator yang diamati dengan menggunakan kuesioner bertujuan untuk mengetahui pendapat responden mengenai persepsi akuntan publik pria dan wanita terhadap isu-isu yang berkaitan dengan akuntan publik wanita dengan menggunakan akuntan publik yang bekerja pada Kantor Akuntan Publik yang berada di wilayah Yogyakarta. Ketertarikan peneliti memilih kota Yogyakarta sebagai tempat penelitian karena penelitian sejenis sudah banyak dilakukan untuk daerah Semarang sehingga peneliti mencoba melakukan penelitian yang sama untuk daerah Yogyakarta. Selain itu, banyaknya jumlah perusahaan dan berbagai bentuk badan hukum perusahaan yang membutuhkan akuntan publik yang dapat memberikan jasa layanan audit mencakup pemerolehan dan penilaian bukti yang mendasari laporan keuangan historis maka diperlukan keterlibatan akuntan publik yang banyak pula. Sehingga perilaku gender akuntan publik pria dan wanita sangat mempengaruhi persepsi akuntan publik pria dan wanita terhadap isu-isu yang berkaitan dengan akuntan publik wanita. Kantor Akuntan Publik sebagai obyek penelitian yang berada di wilayah Yogyakarta sebanyak 10 Kantor Akuntan Publik sehingga sudah mencukupi dan layak untuk digunakan dalam penelitian. Dengan jumlah Kantor Akuntan Publik yang tentunya mempunyai jumlah akuntan publik yang cukup banyak dapat mengakibatkan variasi permasalahan yang mungkin akan muncul pada suatu organisasi. Dengan demikian dapat diketahui pendapat responden mengenai persepsi akuntan publik pria dan wanita terhadap isu-isu yang berkaitan dengan akuntan publik wanita.

Berdasarkan latar belakang tersebut diatas maka penulis mengambil judul: “ PERSEPSI AKUNTAN PUBLIK PRIA DAN WANITA TERHADAP ISU-ISU YANG BERKAITAN DENGAN AKUNTAN PUBLIK WANITA

1.2 Perumusan Masalah
Berdasar uraian latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu:
1. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap kesempatan bagi akuntan publik wanita?
2. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap perlakuan yang diterima oleh akuntan publik wanita?
3. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap penerimaan bagi akuntan publik wanita?
4. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap komitmen akuntan publik wanita?
5. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap akomodasi khusus bagi akuntan publik wanita?

1.3 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah, penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap kesempatan bagi akuntan publik wanita .
2. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan yang antara persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap perlakuan yang diterima oleh akuntan publik wanita.
3. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap penerimaan bagi akuntan publik wanita.
4. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap komitmen akuntan publik wanita.
5. Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara persepsi akuntan publik pria dan persepsi akuntan publik wanita terhadap akomodasi khusus kesempatan bagi akuntan publik wanita.

1.4 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat mempunyai manfaat sebagai berikut:
1. Bagi Pihak Manajemen
Diharapkan adanya perilaku dan kebijakan positif yang mempertimbangkan isu-isu sensitif mengenai wanita di bidang akuntansi publik dapat dilakukan bila mereka memahami persepsi staf akuntan publik pria dan wanita mengenai isu-isu tersebut.

2. Bagi Pihak Profesi
Penelitian ini diharapkan dapat memperluas wawasannya di dalam pengembangan sumber daya manusia yang ada, dikarenakan profesi akuntan publik adalah suatu profesi yang dinamis, sehingga dengan adanya informasi yang telah di terima mengenai persepsi terhadap isu-isu yang berkaitan dengan wanita di profesi ini, diharapkan mampu memperkaya wawasan dan sudut pandang profesi, terutama yang berkaitan dengan akuntan publik wanita.

3. Bagi Kantor Akuntan Publik
Penelitian ini diharapkan dapat berguna sebagai input atau masukan mengenai persepsi para auditor, baik pria dan wanita terhadap isu-isu yang berkaitan dengan auditor wanita yang nantinya akan mempengaruhi motivasi dan produktifitas kerja.

4. Bagi Peneliti Yang Akan Datang
Penelitian ini mempunyai kegunaan teoritis sebagai referensi pada penelitian yang sejenis, dan dapat mendorong dilakukannya penelitian serupa di masa datang yang diharapkan dapat memperbaiki penelitian-penelitian selanjutnya.

1.5 Sistematika Penulisan
Penulisan skripsi ini terbagi dalam lima bab dengan sistematika sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN
Bab ini berisi tentang latar belakang penelitian, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini berisi tentang teori-teori dan pendapat-pendapat para ahli berkaitan dengan topik yang diteliti sebagai bahan acuan dalam melakukan penelitian. Landasan teori dan pendapat-pendapat tersebut diambil dari berbagai literatur maupun artikel yang berhubungan dengan penelitian ini. Selain landasan teori dibahas juga tentang kerangka pemikiran dan hipotesis penelitian yang akan diuji dalam penelitian ini.

BAB III : METODE PENELITIAN
Bab ini menguraikan tentang variabel penelitian dan definisi operasional, penentuan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data dan metode analisis data.

BAB IV : HASIL DAN PEMBAHASAN
Bab ini berisi tentang gambaran umum obyek penelitian, analisis data dan hasil penelitian tentang obyek penelitian sesuai dengan masalah yang diidentifikasi, analisis permasalahan serta pembahasan masalah berdasarkan data yang tersedia.

BAB V : PENUTUP
Bab ini menjelaskan tentang kesimpulan berdasarkan hasil pembahasan serta saran yang dapat dijelaskan.


DAFTAR PUSTAKA

Alvin A. Arens dan James K. Loebbecke, 1991, Auditing Suatu Pendekatan Terpadu Jilid 1, Erlangga, Jakarta.

Ayu Chairina Laksmi dan Nur Indriantoro, 1999. “Persepsi Akuntan Publik Pria Dan Wanita Tterhadap Isu-Isu Yang Berkaitan Dengan Akuntan Publik Wanita”, SNA II IAI-KAPd, Universitas Brawijaya.

Mulyadi, 2002, Auditing Edisi 6, Salemba Empat, Jakarta.
Yvonne Augustine S, 2004, “Persepsi Akuntan Publik Pria Dan Wanita Terhadap Isu-Isu Yang Berkaitan Dengan Akuntan Publik Wanita”, Media Riset Akuntansi, Auditing dan Informasi Vol. 4 No.2, Universitas Trisakti.

Ruchyat Kokasih, 1982, Auditing Prinsip dan Prosedur Buku 1, Ananda, Yogyakarta.
Sri Trisnaningsih , 2004, “Perbedaan Kinerja Auditor Dilihat Dari Segi Gender”, Jurnal Riset Akuntansi Indoneia Vol 7 No.1, Universitas Pembangunan Nasional, Jawa Timur.

Robbins, Stephen P, 1998. “Perilaku Oeganisasi”, Prenhallindo, Jakarta.

Winarna, Jaka dan Ninuk Retnowati, 2003. “Persepsi Akuntan Pendidik Dan Mahasiswa Akuntansi Terhadap Kode Etik Ikatan Akuntan Indonesia” Simposium Nasional Akuntansi VI, hal 839-847.
http://www.infoskripsi.com/Article/ Pengertian-persepsi.html.

Sumiarni, Endang , 2004. Jender dan Feminisme. Penerbit Wonderful Publishing Company, Yogyakarta.
http://id.wikipedia.org/wiki/Kantor_Akuntan_Publik
Gozhali, Imam, 2001. Aplikasi Analisis Multivariate dengan program SPSS. Badan Penerbit Undip, Semarang.

Stanislaus S. Uyanto, 2006. Pedoman Analisis Data Dengan SPSS. Graha Ilmu, Yogyakarta
Donald R. Cooper dan William Emory, 1998. Metode Penelitian Bisnis Edisi kelima, Erlangga, Jakarta

Download File dibawah ini:
Download File


Share


PERILAKU PENCEGAHAN

HUBUNGAN PERILAKU PENCEGAHAN IMS DENGAN KEJADIAN IMS PADA WPS DI RESOSIALISASI ARGOREJO KELURAHAN KALIBANTENG KULON
PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia Sehat 2010 yang telah dicanangkan oleh Departemen Kesehatan, mempunyai visi yang sangat ideal, yakni masyarakat Indonesia yang penduduknya hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat, mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu, adil dan merata, serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.1)

Dalam Sistem Kesehatan Nasional (SKN) disebutkan bahwa tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujudnya derajat kesehatan yang optimal. Untuk mencapai derajat kesehatan nasional, maka perlu pembangunan nasional yang berwawasan kesehatan. Keberhasilan pembangunan kesehatan dapat diwujudkan melalui komitmen bersama dan mengubah paradigma lama menjadi baru dengan orientasi pembangunan kesehatan yang semula sangat menekan upaya kuratif, secara perlahan-lahan menjadi upaya kesehatan menuju kawasan sehat dengan peran aktif masyarakat. Guna mencapai harapan tersebut berbagai upaya kebijaksanaan dibidang kesehatan telah ditempuh, salah satunya adalah upaya menghadapi masalah penyakit Infeksi Menular Seksual (IMS). 2)
Penyakit IMS disebut juga penyakit kelamin, merupakan salah satu penyakit yang mudah ditularkan melalui hubungan seksual, dengan ciri khas adanya penyebab dan kelainan yang terjadi terutama di daerah genital. Penyakit IMS ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang cukup menonjol pada sebagian besar wilayah di dunia, baik negara maju maupun negara berkembang. Dari laporan yang ada menunjukkan bahwa setiap negara masih tetap menghadapi bahaya dan akibat yang tidak diinginkan yang disebabkan oleh IMS. Kegagalan dalam mendiagnosis dan memberikan pengobatan pada stadium dini dapat menimbulkan komplikasi serius atau berat dan berbagai gejala sisa lainnya, antara lain : kemandulan (infertilitas), akibat buruk pada bayi, kahamilan di luar rahim (ectopic pregnancy), serta kematian dini. 3)

Angka penyakit IMS di kalangan WPS (Wanita Pekerja Seks) tiap tahunnya menunjukkan peningkatan. Saat ini diperkirakan 80%-90% WPS terjangkit IMS seperti : Neisseria gonorrhoeae, herpes simplex vinio tipe 2 dan clamidia. IMS yang berarti suatu infeksi kebanyakkan ditularkan melalui hubungan seksual (oral, anal dan lewat vagina). Harus diperhatikan bahwa IMS menyerang sekitar alat kelamin, tetapi gejalanya dapat muncul dan menyerang mata, mulut, saluran pencernaan, hati, otak dan organ tubuh lainnya. Ada beberapa penyakit IMS yang disebabkan oleh virus seperti : HIV, herpes kelamin dan hepatitis B adalah contoh IMS yang tidak dapat disembuhkan. Herpes kelamin memiliki gejala yang muncul hilang dan bisa terasa sangat sakit jika penyakit tersebut sedang aktif. Pada herpes, obat-obatan hanya bisa digunakan untuk mengobati gejala saja, tetapi virus yang menyebabkan herpes tetap hidup di dalam tubuh selamanya. 4,5)

Penelitian prevalensi IMS pada WPS, yang diselenggarakan oleh Sub Direktorat AIDS dan PMS, Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Depertemen Kesehatan Indonesia bekerjasama dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan dan Program ASA pada tahun 2003, melaporkan bahwa 7 kota yang diteliti terdapat 62%-93% WPS jalanan yang terinfeksi IMS, 54%-74% WPS lokalisasi, dan 48%-77% WPS tempat hiburan. Khusus Kota Semarang dilaporkan terdapat 57% WPS lokalisasi dan 68% WPS jalanan yang terinfeksi lebih dari satu penyakit IMS. Pada WPS lokalisasi prevalensi IMS tertinggi adalah gonore (31%), klamidia (22%), bacterial vaginosis (16%), infeksi ganda gonore dan klamidia (9%), sifilis laten lanjut (5%), kandidiasis vaginalis (4%) dan trikomoniasis (3%). 6)

Pada WPS terdapat sedikitnya dua macam perilaku pencegahan keliru yang dipraktikan, yakni minum antibiotik dengan dosis tidak tepat (seperti : supertetra, tetrasiklin, ampisilin, amoksilin) dan kebiasaan mencuci vagina dimana kesehatan reproduksi juga berpengaruh terhadap penyebaran penyakit IMS. Perawatan organ reproduksi genital yang merupakan salah satu komponen hygiene perseorangan, juga memegang peranan penting dalam menentukan terhindarnya individu tersebut dari infeksi organ reproduksi, yakni vagina atau jalan lahir atau alat genital, sehingga perilaku yang mendasar, misalnya : cara mencuci organ reproduksi dengan baik tidak dapat diabaikan sebagai salah satu hal yang sangat penting dalam menentukan status hygiene atau perawatan organ reproduksi genital seseorang. Disamping itu, konsistensi pemakaian kondom masih rendah, bahkan perilaku sama sekali tidak menggunakan kondom masih sangat tinggi.
WPS adalah sebutan bagi seorang “pelacur”, tetapi ada juga yang menyebut dengan Pekerja Seks Komersial (PSK). Pada Ensiklopedia Nasional Indonesia dijelaskan bahwa kata “pelacur” sama artinya dengan “prostitusi” merupakan kegiatan manusia dalam menjual atau menyewakan tubuhnya untuk kenikmatan orang lain dengan mengharapkan sesuatu imbalan atau upah. 7,8)

Dari data yang didapat dari prasurvei Dinas Kesehatan Kota Semarang pada tahun 2008 didapatkan data bahwa WPS yang ada di Kota Semarang kurang dari 1200 orang. Dimana WPS tersebut mempunyai daerah mangkal yang terpisah-pisah yang tersebar di berbagai daerah di Kota Semarang yang salah satunya adalah di Resosialisasi Argorejo Kota Semarang.

Resosialisasi Argorejo adalah salah satu Resosialisasi yang paling besar di Kota Semarang yang letaknya di Kelurahan Kalibanteng Kulon Kecamatan Semarang Barat. Karena letaknya yang strategis dengan jaraknya yang dekat menyebabkan resosialisasi ini mudah untuk dikunjungi, sehingga dapat dikatakan tempat ini berisiko terhadap penularan penyakit IMS. Berdasarkan data yang diperoleh dari Puskesmas Lebdosari Kota Semarang tahun 2008 terdapat 600 orang WPS yang berada di Resosialisasi tersebut.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka perumusan masalahnya adalah “ Adakah Hubungan Perilaku Pencegahan IMS dengan Kejadian IMS Pada WPS di Resosialisasi Argorejo Kota Semarang? ”.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan perilaku pencegahan IMS dengan kejadian IMS pada WPS di Resosialisasi Argorejo Kota Semarang.

2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui kejadian IMS pada WPS
b. Mengetahui pengetahuan, sikap dan praktik pencegahan IMS dengan kejadian IMS pada WPS di Resosialisasi Argorejo Kota Semarang
c. Mengetahui hubungan antara pengetahuan tentang pencegahan IMS dengan kejadian IMS pada WPS di Resosialisasi Argorejo Kota Semarang
d. Mengetahui hubungan antara sikap terhadap pencegahan IMS dengan kejadian IMS pada WPS di Resosialisasi Argorejo Kota Semarang
e. Mengetahui hubungan antara praktik tentang pencegahan IMS dengan kejadian IMS pada WPS di Resosialisasi Argorejo Kota Semarang

D. Manfaat Penelitian
1. Bagi Keilmuan
Memberikan masukkan dan informasi yang diperlukan sebagai bahan pustaka untuk pengembangan selanjutnya dan dapat memperkaya khasanah keilmuan, khususnya di bidang kesehatan masyarakat dengan peminatan Epidemiologi.

2. Bagi Program
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi Dinas Kesehatan sebagai sumber infomasi dalam upaya pembuatan program yang bertujuan untuk mencegah penularan IMS

3. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi secara benar kepada masyarakat khususnya WPS tentang penyakit IMS.

File terkait download dibawah ini:

File Download


Share


Cari Skripsi | Artikel | Makalah | Panduan Bisnis Internet Disini

Custom Search
 

Mybloglog

blogcatalog

Alphainventions.com

Followers

TUGAS KAMPUS Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template