TUGAS KAMPUS: Artikel Bahasa

Forum MT5 (1 Post = 0.2$ )

Showing posts with label Artikel Bahasa. Show all posts
Showing posts with label Artikel Bahasa. Show all posts

Manusia Merupakan Makhluk yang Berakal Budi

Manusia merupakan makhluk yang berakal budi. Dengan akal budinya, manusia mampu mengembangkan kemampuan yang spesisifik manusiawi, yang menyangkut daya cipta, rasa maupun karsa. Dengan akal budinya, maka kemampuan bersuara bisa menjadi kemampuan berbahasa dan berkomunikasi. Manusia mampu menciptakan dan menggunakan symbol-simbol dalam kehidupan sehari-hari, sehingga oleh Ernst Cassirer disebut sebagai animal symbolicum (Suriasumantri, 2005: 171).

Adanya akal budi juga menyebabkan manusia mampu berpikir abstrak dan konseptual sehingga manusia disebut sebagai makhluk pemikir (homosapiens). Aristoteles menyebut manusia karena kemampuan sebagai animal that reason, dengan cirri utamanya selalu ingin mengetahui. Pada manusia melekat kehausan intelektual (intellectual curiousity), yang menjelma dalam aneka wujud pertanyaan (Rinjin, 1996: 9).

Manusia selalu bertanya karena terdorong oleh rasa ingin tahu. Rasa ingin tahu tersebut sudah muncul pada awal perkembangannya. Manifestasi dari hasrat ingin tahu tersebut antara lain berupa pertanyaan: apa ini atau apa itu? Pertanyaan tersebut selanjutnya berkembangan menjadi: mengapa demikian dan bagaimana cara mengatasinya ?

Hasrat ingin tahu manusia tersebut terpuaskan bila manusia memperoleh pengetahuan yang benar mengenai hal-hal yang dipertanyakan. Dalam sejarah perkembangannya, manusia ternyata manusia selalu berusaha memperoleh pengetahuan yang benar atau yang secara singkat dapat disebut sebagai kebenaran (Suryabrata, 2000: 2). Manusia senantiasa berusaha memahami, memperoleh, dan memanfaatkan kebenaran untuk kehidupannya. Tidak salah jika satu sebutan lagi diberikan kepadanya, yaitu manusia sebagai makhluk pencari kebenaran.

1. Pendekatan-pendekatan untuk Memperoleh Kebenaran
Ada beberapa pendekatan yang dipakai manusia untuk memperoleh kebenaran yaitu : pendekatan empiris, pendekatan rasional, pendekatan intuitif, pendekatan religius, pendekatan otoritas, dan pendekatan ilmiah.

a. Pendekatan Empiris
Manusia mempunyai seperangkat indera yang berfungsi sebagai penghubung dirinya dengan dunia nyata. Dengan inderanya manusia mampu mengenal berbagai hal yang ada di sekitarnya, yang kemudia diproses dan mengisi kesadarannya. Indera bagi manusia merupakan pintu gerbang jiwa. Tidak ada pengalaman yang diperoleh tanpa melalui indera.

Kenyataan seperti yang disebutkan di atas menyebabkan timbulnya anggapan bahwa kebenaran dapat diperoleh melalui penginderaan atau pengalaman. Kebenaran dari pendapat tersebut kiranya tidak dapat dipungkiri. Bahwa dengan pengalaman kita mendapatkan pemahaman yang benar mengenai bentuk, ukuran, warna, dst. mengenai suatu hal. Upaya untuk mendapatkan kebenaran dengan pendekatan demikian merupakan upaya yang elementer namun tetap diperlukan.

Mereka yang mempercayai bahwa penginderaan merupakan satu-satunya cara untuk memperoleh kebenaran disebut sebagai kaum empiris. Bagi golongan ini, pengetahuan itu bukab didapatkan melalui penalaran rasional yang abstrak, namun melalui pengalaman yang konkrit. Gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkrit dan dapat dinyatakan melalui tangkapan indera manusia.

b. Pendekatan Rasional
Cara lain untuk mendapatkan kebenaran adalah dengan mengandalkan rasio. Upaya ini sering disebut sebagai pendekatan rasional. Manusia merupakan makhluk hidup yang dapat berpikir. Dengan kemampuannya ini manusia dapat menangkap ide atau prinsip tentang sesuatu, yang pada akhirnya sampai pada kebenaran, yaitu kebenaran rasional.

Golongan yang menganggap rasio sebagai satu-satunya kemampuan untuk memperoleh kebenaran disebut kaum rasionalis. Premis yang mereka pergunakan dalam penalarannya adalah ide, yang menurut anggapannya memang sudah ada sebelum manusia memikirkannya. Fungsi pikiran manusia adalah mengenal ide tersebut untukdijadikan pengetahuan.

c. Pendekatan Intuitif
Menurut Jujun S. Suriasimantri (2005: 53), intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang menghadapi suatu masalah secara tiba-tiba menemukan jalan pemecahannya. Atau secara tiba-tiba seseorang memperoleh “informasi” mengenai peristiwa yang akan terjadi. Itulah beberapa contoh intuisi.

Intuisi bersifat personal dan tidak bisa diramalkan. Bahwa intuisi yang dialami oleh seseorang bersifat khas, sulit atau tak bisa dijelaskan, dan tak bisa dipelajari atau ditiru oleh orang lain. Bahkan seseorang yang pernah memperoleh intuisi sulit atau bahkan tidak bisa mengulang pengalaman serupa.

Kebenaran yang diperoleh dengan pendekatan intuitif disebut sebagai kebenaran intuitif. Kebenaran intuitif sulit untuk dipertanggung jawabkan, sehingga ada-ada pihak-pihak yang meragukan kebenaran macam ini.

Meskipun validitas intuitisi diragukan banyak pihak, ada sementara ahli yang menaruh perhatian pada kemampuan manusia yang satu ini. Bagi Abraham Maslow, intuisi merupakan pengalaman puncak (peak experience), sedangkan bagi Nietzsche, intuisi merupakan inteligensi yang paling tinggi (Sumantri, 2005: 53).

d. Pendekatan Religius
Manusia merupakan makhluk yang menyadari bahwa alam semesta beserta isinya ini diciptakan dan dikendalikan oleh kekuatan adi kodrati, yaitu Tuhan. Kekuatan adi kodrati inilah sumber dari segala kebenaran. Oleh karena itu agar manusia memperoleh kebenaran yang hakiki, manusia harus berhubungan dengan kekuatan adi kodrtai tersebut.

Upaya untuk memperoleh kebenaran dengan jalan seperti tersebutdi atas disebut sebagai pendekatan religius atau pendekatan supra-pikir (Rinjin, 1996: 54). Disebut demikian karena pendekatan tersebut melampai daya nalar manusia manusia.

Kebenaan religius bukan hanya bersangkuta paut dengan kehidupan sekarang dan yang terjangkau oleh pengalaman, namun juga mencakup masalah-masalah yang bersifat transcendental, seperti latar belakang penciptaan manusia dan kehidupan setelah kematian.

e. Pendekatan Otoritas
Usaha untuk memperoleh kebenaran juga dapat dilakukan dengan dasar pendapat atau pernyataan dari pihak yang memiliki otoritas. Yang dimaksud dengan hal ini adalah individu-individu yang memiliki kelebihan tertentu disbanding anggota masyarakat pada umumnya.

Kelebihan-kelebihan tersebut bisa berupa kekuasaan, kemampuan intelektual, keterampilan, pengalaman, dan sebagainya. Mereka yang memiliki kelebihan-kelebihan seperti itu disegani, ditakuti, ataupun dijadikan figur panutan. Apa yang mereka nyatakan akan diterima masyarakat sebagai suatu kebenaran.

Sepanjang sejarah dapat ditemukan contoh-contoh mengenai ketergantungan manusia pada otoritas dalam mencari kebenaran. Pada masa Yunani kuno para pemikir seperti Socrates, Plato, dan Aristoteles dipandang sebagai sumber kebenaran, bahkan melebihi pengamatan atau pengalaman langsung. Apa yang dinyatakan oleh para tokoh tersebut dijadikan acuan dalam memahami realitas, berpikir, dan berindak.

f. Pendekatan Ilmiah
Pendekatan ilmiah pertumpu pada dua anggapan dasar, yaitu : pertama, bahwa kebenaran dapat diperoleh dari pengamatan dan kedua, bahwa gejala itu timbul sesuai dengan hubungan-hubungan yang berlaku menurut hokum tertentu (Ary dkk., 2000: 63).

Pendekatan ilmiah merupakan pengombinasian yang jitu dari pendekatan empiris dan pendekatan rasional. Kombinasi ini didasarkan pada hasil analisis terhadap kedua pendekatan tersebut. Pada satu segi kedua pendekatan tersebut bisa dipertanggung jawabkan namun pada segi yang lain terdapat beberapa kelemahan.

Kelemahan pertama pendekatan empiris, bahwa pengetahuan yang berhasil dikumpulkan cenderung untuk menjadi kumpulan fakta-fakta. Kumpulan fakta-fakta tersebut belum tentu bersifat konsisten dan mungkin saja terdapat hal-hal yang bersifat kontradiktif (Suriasumantri, 2005: 52). Kelemahan kedua, terletak pada kesepakatan mengenai pemahaman hakikat pengalaman yang merupakan cara untuk memperoleh kebenaran dan indera sebagai alat yang menangkapnya.

Sedangkan kelemahan yang terdapat pada pendekatan rasional adalah terdapat pada kriteria untuk menguji kebenaran dari suatu ide yang menurut seseorang jelas dan dapat dipercaya. Apa yang menurut seseorang jelas, benar, dan dapat dipercaya belum tentu demikian untuk orang lain. Dalam hal ini pemikiran rasional cenderung bersifat solipsisteik dan subjektif (Suriasumantri, 2005: 51).

Kelemahan-kelemahan darikedua pendekatan tersebut bisa dihilangkan atau paling tidak dikurangi dengan mengombinasikan keduanya. Kombinasi tersebut diwujudkan dengan langkah-langkah yang sistematis dan terkontrol. Upaya memahami realitas dalam hal ini didasarkan pada kebenaran atau teori ilmiah yang ada serta mengujinya dengan mengumpulkan fakta-fakta.

Suatu kebenaran dapat disebut sebagai kebenaran ilmiah bila memenuhi dua syarat utama, yaitu : pertama, harus sesuai dengan kebenaran ilmiah sebelumnya yang memungkinkan tidak terjadinya kontradiksi dalam teori keilmuan secara keseluruhan, dan kedua, harus sesuai dengan fakta-fakta empiris. Sebab teori yang bagaimanapun konsistennya sekiranya tidak didukung oleh pengujian empiris tidak dapat diterima kebenarannya secara ilmiah.

2. Ilmu sebagai Kebenaran Ilmiah
a. Karakteristik Kebenaran Ilmiah
Telah dipaparkan di atas bahwa dengan pendekatan ilmiah diperoleh pengetahuan ilmiah atau ilmu. Ilmu dapat dipahami sebagai proses, prosedur, dan produk (The Liang Gie, 2004: 90). Pembahasan berikut ini ditekankan pada makna ilmu sebagai produk. Sebagai produk ilmu tidak lain adalah pengetahuan atau kebenaran ilmiah yang memiliki karakteristik: a. sistematisasi, b. keumuman, c. rasionalitas, d. objektivitas, e. verifiabilitas, dan f. komunalitas.

Pengetahuan dapat digolongkan sebagai ilmu bila pengetahuan tersebut tersusun secara sistematis. Dan apa yang tersusun secara sistematis sebagai suatu kesatuan tersebut haruslah memiliki sifat keumuman (generality), artinya bahwa kebenaran yang terkandung didalamnya harus dapat berlaku secara umum atau luas jangkauannya.

Ciri rasionalitas mengandung makna bahwa kebenaran ilmiah bersumber pada pemikiran rasional yang mematuhi kaidah-kaidah logika. Sedangkan ciri objektivitas menunjuk pada kesesuaian antara hal-hal yang rasional dengan realitas. Ciri verifiabilitas mempunyai arti bahwa kebenaran ilmiah harus dapat diperiksa kebenarannya, diuji ulang oleh setiap anggota masyarakat ilmuwan. Hal ini menunjuk bahwa kebenaran ilmiah tidak bersifat mutlak atau final. Adapun ciri terakhir dari kebenaran ilmiah yaitu komunalitas memiliki arti bahwa kebenaran ilmiah itu merupakan pengetahuan yang menjadi milik umum.

Berbicara tentang karakteristik kebenaran ilmiah, Sonny Keraf A. dan Mikhael Dua (2001: 75), menyatakan bahwa kebenaran ilmiah mempunyai sekurang-kurangnya tiga sifat dasar, yaitu : rasional-logis, isi empiris, dan dapat diterapkan (pragmatis). Hal itu berarti bahwa kebenaran ilmiah yang logis dan impiris itu pada akhirnya dapat diterapkan dan digunakan bagi kehidupan manusia.

b. Fungsi Kebenaran Ilmiah
Semua kebenaran bermanfaat bagi manusia demikian juga dengan kebenaran ilmiah. Fungsi dari kebenaran ilmiah adalah : deskriptif, prediktif, dan pengendalian berkenaan dengan dengan gejala-gejala yang ada dalam dunia pengalaman manusia.

Fungsi deskriptif menunjuk pada keharusan ilmu untuk bisa memberikan penjelasan secara rinci, lengkap, dan runtut mengenai berbagai hal yang menjadi perhatian manusia. Penjelasan tersebut bisa bersifat deskriptif, preskriptif, eksposisi pola, maupun rekonstruksi histories.

Bila gejala-gejala yang ada di alam semesta dapat dijelaskan, maka selanjutnya dapat dilakukan prediksi atau membuat perkiraan-perkiraan tentang apa yang akan terjadi kemudian. Inilah fungsi kedua dari ilmu, yaitu fungsi prediktif. Atas dasar hasil prediksi, selanjutnya dapat dilakukan pengendalian, yaitu mencegah agar gejala-gejala yang tidak diinginkan tidak terjadi serta mendorong agar terjadi gejala-gejala yang dikehendaki.

4. Kesimpulan
Sebagai penutup dari pembahasan mengenai ilmu dan upaya manusia untuk memperoleh kebenaran, dikemukakan kesimpulan sebagai berikut.

a. Manusia merupakan homo sapiens atau makhluk pemikir. Sebagai makhluk pemikir maka pada diri manusia melekat selalu ingin tahu.

b. Hasrat ingin tahu manusia mendorong dirinya untuk mencari jawaban yang benar mengenai berbagai hal yang dipertanyakan.

c. Kebenaran dapat diperoleh manusia dengan berbagai pendekatan, salah satu diantaranya adalah dengan pendekatan ilmiah. Dengan pendekatan ilmiah manusia dapat memperoleh ilmu atau kebenaran ilmiah.

d. Kebenaran ilmiah memiliki karakteristik : sistematisasi, keumuman, rasionalitas, objektivitas, verifiabilitas, dan komunalitas.

e. Fungsi dari kebenaran ilmiah adalah deskriptif, prediktif, dan pengendalian.

Subyek Hukum Perjanjian Internasional

Adalah pihak yang mengadakan perjanjian. Subjek hukum perjanjian internasional dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut:
a.       Subjek Hukum Perjanjian dalam hokum perdata internosional, dapat dibedakan menjadi:
  1. Individu atau perseorangan (persoon)
  2. Badan hukum (rechtspersoon)

b.      Subyek hukum perjanjian dalam hukum publik mternasionat, antara lain:
  1. Individu atau perseorangan
  2. Negara yang merdeka dan berdaulat
  3. Lembaga atau organisasi internasional, seperti ASEAN dan PBB
  4. Kesatuan bukan negara, seperti PLO, dan negara lain
  5. Tahta Suci Vatikan
  6. Palang Merah Internasional
  7. Pemberontakan dan pihak dalam sengketa ( kaum belligerensi).
A.    Hukum Internasional
dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
a.       Hukum perdata internasional
adalah hukum internasional yang mengatur hubungan hukum antara warga negara di suatu negara dengan warga negara di negara lain (hukum antar bangsa).
b.      Hukum publik internasional
adalah hukum internasional yang mengatur negara yang satu dengan negara yang lain dalam hubungan internasional (hukum antar negara).

1.      Negara
Menurut Konvensi Montevideo 1949, mengenai Hak don Kewajiban Negara, kualifikasi Suatu negara untuk disebut sebagai pribadi dalam hukum internasional adalah:
  1. Penduduk yang tetap;
  2. Wilayah tertentu;
  3. Pemerintahan;
  4. Kemampuan untuk mengadakan hubungan dengan negara lain

2.      Organisasi tntemasionat
Klasifikasi organisasi internasional menurut Theodore A Couloumbis dan James H. Wolfe:
a.       Organisosi internasional yang memiliki keanggotaan global dengan maksud dan tujuan yang bersifat umum, contohnya adalah Perserikatan Bangsa Bangsa;
b.      Organisasi internasional yang memiliki keanggotaan global dengan maksud dan tujuan yang bersifat spesifik, contohnya adatah World Bank. UNESCO, International Monetary Fund, International Labor Organization, dan lain-lain;
c.       Organisasi internasional dengan keanggotaan regianal dengan maksud dan tujuan global, antara lain; Association of South East Asian Nation (ASEAN), Europe Union.

3.      Palang Merah internasional
Sebenarnya Palang Merah Internasional, hanyalah merupakan salah satu jenis organisasi. Namun karena factor sejarah keberadaan Palang Merah Internasional di dalam hubungan dan hukum internasionol menjadi sangat unik dan di samping itu juga menjadi sangat strategis. Pada awal mulanya, Palang Merah Internasional merupakan organisasi dalam ruang lingkup nasional, yaitu Swiss, didirikan oleh lima orang berkewarganegaraan Swiss, yang dipimpin oleh Henry Dunant dan bergerak di bidang kemanusiaan. Kegiatan kemanusiaan yang dilakukan oleh Palang Merah Internasional mendapatkan simpati dan meluas di banyak negara, yang kemudian membentuk Palang Merah Nasional di masing-masing wilayahnya. Palang Merah Nasional dari negara-negara itu kemudian dihimpun menjadi Palang Merah Internasional (International Committee of the Red Cross/ICRC) dan berkedudukan di Jenewa, Swiss. (Phartiana, 2003; 123)

4.      Tahta Suci Vatikan
Tahta Suci Vatikan di akui sebagai subyek hukum internasional berdasarkan Traktat Lateran tanggal 11 Februari 1929, antara pemerintah Italia dan Tahta Suci Vatikan mengenai penyerahan sebidang tanah di Roma. Perjanjian Lateran tersebut pada sisi lain dapat dipandang sebagai pengakuan Italia atas eksistensi Tahta Suci sebagai pribadi hukum internasional yang berdiri sendiri, walaupun tugas dan kewenangannya, tidak seluas tugas dan kewenangan negara, sebab hanya terbatas pada bidang kerohanian dan kemanusiaan, sehingga hanya memiliki tekuatan moral saja, namun wibawa Paus sebagai pemimpin tertinggi Tahta Suci dan umat Katholik sedunia, sudah diakui secara luas di seluruh dunia. Oleh karena itu, banyak negara membuka hubungon diplomatik dengan Tahta Suci, dengan cara menempatkan kedutaan besarnya di Vatican dan demikian juga sebaliknya Tahta Suci juga menempatkan kedutaan besarnya di berbagoi negara. (Phartiana. 2003, 25)

5.      Individu
Pertumbuhan dan perkembangan kaidah-kaidah hukum internasional yang memberikan hak dan membebani kewajiban serta tanggung jawab secara langsung pada individu semakin bertambah pesat, terutama setelah Perang Dunia II. Lahirnya Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia {Universal Dedclaration of Human Rights) pada tanggal 10 Desember 1948 diikuti dengan lahirnya beberapa konvensi-konvensi hak asasi manusia di berbagai kawasan, dan hal ini semakin mengukuhkan eksistensi individu sebagai subyek hukum internasionol yang mandiri.

KURIKULUM SEBAGAI PROGRAM PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada zaman dahulu pendidikan anak sepenuhnya menjadi tugas dan tanggung jawab orang tua dalam keluarga anak di bimbing dan dididik untuk menguasai pengetahuan dan ketrampilan hidup sederhana.
Lambat laun seiring dengan kemajuan masyarakat dan ilmu pengetahun orang tua tidak mampu lagi menangani pendidikan bagi para putera-puterinya sendiri, sebagian dari tugas pendidikan anak harus di serahkan kepada pihak lain yang di selenggarakan di sekolah.
Ada perbedaan pendapat mengenai fungsi utama sekolah. Pendapat pertama menyatakan bahwa sekolah sebagian lembaga kebudayaan pihak lain berpendirian bahwa fungsi utama sekolah adalah pembinaan dan pengembangan semua potensi individu, terutama pengembangan potensi fisik, intelektual dan moral setiap peserta didik. Pandangan terakhir mencakup keduanya, yaitu sekolah harus berfungsi sebagai tempat pendidikan formal untuk mengembangkan semua potensi peserta didik sebagai sumber daya manusia.
Tujuan pendidikan, isi, bahan, metode dan evaluasi hasil belajar dirancang menjadi suatu program kegiatan pendidikan berupa kurikulum-kurikulum sebagai program pendidikan  yang direncanakan dan dilakukan untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan tertentu, mempunyai peranan yang sentral dalam penyelenggaraan pendidikan dan pengajaran.

B.     Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa pengertian pengembangan kurikulum ?
2.      Apa saja yang melandasi pengembangan kurikulum ?
3.      Apa yang menjadi prinsip pengembangan kurikulum ?
4.      Apa saja model-model pengembangan kurikulum ?
C.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Dapat mengerti pengertian pengembangan kurikulum.
2.      Dapat mengerti apa saja yang melandasi pengembangan kurikulum.
3.      Dapat memahami prinsip pengembangan kurikulum.
4.      Dapat menerapkan model-model pengembangan kurikulum.

BAB II
PEMBAHASAN

Model-Model Pengembangan Kurikulum
Pengembangan kurikulum yang dilakukan secara sistematis perlu dilandasi suatu teori atau model. Model adalah suatu bentuk yang sederhana dari suatu teori. Ada beberapa model pengembangan kurikulum diantaranya yaitu model Ragers, Model R. Zais, model GranssRoats, model Beanchamp dan model Hilda Taba.

1.      Model Ragers
Carl Ragers adalah seorang ahli psikologi yang berpandangan bahwa manusia dalam proses perubahan yang mempunyai kekuatan dan potensi untuk berkembang sendiri (Nana Sy. Sukmadinata, 1988 : 184). Model relasi interpersonal Rager terdiri dari empat langkah pengembangan kurikulum, yakni : (I) pemilihan satu sistem pendidikan sasaran, (II) pengalaman kelompok yang intensif bagi guru, (III) pengembangan suatu pengalaman kelompok yang intensif bagi satu kelas atau unit pelajaran, dan (IV) melibatkan orang tua dalam pengalaman kelompok yang intensif. Rogers lebih mementingkan kegiatan pengembangan kurikulum dari pada rancangan pengembangan kurikulum tertulis, yakni melalui aktifitas dan luterake dalam pengalaman kelompok intensif yang terpilih.

2.      Model Administratif (Laie-Staff)
Model administratif atau garer komando (Laie-Staff) merupakan pola pengembangan kurikulum yang paling awal dan mungkin yang paling dikenal ( Zais, 1976, 447 : Nana Sy. Sukmadinata, 1988 : 179). Model pengembangan kurikulum ini berdasarkan pada cara kerja atasan-bawahan (top-down) yang dipandang efektif dalam pelaksanaan perubahan termasuk perubahan kurikulum.
Administratif / garis komando memiliki langkah-langkah berikut ini :
  1. Administrator pendidikan (pemimpin) membentuk komisi pengarah.
  2. Komisi pengarah bertugas merumuskan rencana umm, mengembangkan prinsip-prinsip sebagai pedoman dan menyiapkan suatu pernyataan filosofi dan tujuan-tujuan untuk seluruh wilayah sekolah.
  3. Komisi pengarah memeriksa hasil karya dari komisi kerja dan menyempurnakan bagian-bagian tertulis bila dianggap perlu.
Dari uraian mengenai model pengembangan kurikulum administrasi, kita dapat menandai adanya dua kegiatan di dalamnya : a) menyiapkan separangkat dokumen kurikulum baru dan b) menyiapkan instalasi dokumen. Dengan kata lain model administrasi membuuthkan kegiatan penyiapan kurikulum dengan baik. Pengembangan kurikulum dengan model dimulai dari pasar dengan membentuk panitia pengarah dan kemudian membentuk kelompok kerja yang terutama terdiri dari staf pengajaran ahli dan spesialis kurikulum kemudian hasil kerja di ujicoba oleh kamuse lainnya yang ditunjuk panitia pengarah.

3.      Model Grass – Roots
Model pengembangan ini merupakan kebalikan dari model administratif sumber inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum. Bila model administratif semua inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum dari atas, maka model grass – roots semua inisiatif dan upaya pengembangan kurikulum dari bawah. Bisa dikatakan model administratif bersifat top-down (catatan-bawahan) sedangkan model Grass-roots dapat mengupayakan pengembangan sebagian komponen-komponen kurikulum terdapat dapat keseluruhan, dapat pula sebagian dari keseluruhan komponen kurikulum atas keseluruhan dari seluruh komponen kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum model grass-roots perlu diingat 4 prinsip yang dikemukakan oleh Smith, Stanley, dan Shares (1957 dalam Zais, 1976 : 449), yakni :
             
            Kurikulum akan bertambah baik hanya kalau kompetensi profesional guru bertambah baik.
            Kompetensi guru akan menjadi bertambah hanya kalau guru “menjadi personil-personil yang dilibatkan dalam masalah” perbaikan (revisi) kurikulum.
            Jika para guru bersama menanggung bentuk-bentuk yang menjadi tujuan yang dicapai, dalam memilih, mendefinisikan dan memecahkan masalah-masalah yang dihadapi serta dalam memutuskan dan menilai hasil, keterlibatan mereka dapat lebih terjamin.
            Sebagai orang yang bertemu dalam kelompok-kelompok tatap muka, mereka akan mampu mengerti satu dengan yang lain dengan lebih baik dan membantu adanya konsesus dalam prinsip “dasar, tujuan”, dan perencanaan.

4.      Model Beauchamp
Pengembangan kurikulum dengan menggunakan model Beauchamp memiliki lima bagian pembuatan keputusan. Lima tahap pembuatan keputusan tersebut adalah :
            Menentukan arena pengembangan kurikulum, suatu keputusan yang menyebarkan ruang lingkup upaya pengembangan. Arena bisa berupa kelas, sekolah aau sistem pendidikan nasional.
            Memilih dan melibatkan personalia pengembangan kurikulum, suatu keputusan yang menetapkan personalia upaya pengembangan kurikulum. Ada empat kategori personalia yang dilibatkan yakni : a) personalia ahli, misalnya ahli kurikulum atau ahli bidang studi (disiplin ilmu); (b) kelompok terpilih yang terdiri dari ahli pendidikan dan guru-guru terpilih; (c) semua personil profesional dalam sistem persekolahan dan (d) personil personil profesional dan tokoh-tokoh  masyarakat yang terpilih.
            Pengorganisasian dan prosedur pengembangan kurikulum dengan kegiatan sebagai berikut (a) membentuk tim pengembang kurikulum; (b) menilai kurikulum yang sedang berlaku; (c) studi awal tentang isi kurikulum yang baru dan alternatifnya. (d) merumuskan kriteria untuk memutuskan hal-hal yang dapat masuk dalam kurikulum baru dan (e) tim pengembang menyusun menulis kurikulum.
            Implementasi kurikulum, yakni kegiatan untuk menerapkan kurikulum seperti yang sudah dipisahkan dalam ruang lingkup pengembangan kurikulum.
            Evaluasi kurikulum yakni kegiatan yang memiliki 4 dimensi yang terdiri dari (a) evaluasi guru-guru yang menggunakan kurikulum; (b) evaluasi rancangan kurikulum, (c) evaluasi hasil belajar dan (d) evaluasi sistem pengembangan kurikulum.
(Zari, 1976) : 453, Nana Sy. Sukmadinata, 1988 : 18 – 182).

5.      Model Hilda Taba
Model ini dimulai dengan melaksanakan dispermen, pengkajian teoritik, kemudian diimplementasikan, model ini berisi lima langkah pengembangan kurikulum, yaitu :
Sejumlah sifat pengajar menentukan unit-unit kurikulum yang akan dieksprementasikan, melalui kegiatan: (a) mendiagnosis kebutuhan,               (b) merumuskan tujuan khusus, (c) memilih konten, (d) mengorganisasikan konten, (e) memilih pengalaman belajar, (f) meneliti keserasian urutan, kedalaman dan keluasan materi pelajaran.
Mengujicobakan unit “untuk mengkaji validitas dan kelayakan mengajarkannya”
Merevisi hasil uji coba serta menyerasikannya.
Mengembangkan kerangka kerja teoritik, dipandu  dengan pertanyaan-pertanyaan :
Apakah isi unit-unit yang dikembangkan sudah sesuai dengan urutan, kekuasaan dan kedalamannya.
Apakah pengalaman belajar telah memberikan kesempatan perkembangan intelektual emasional dan jasmaniah?
Menyimpulkan kembali dan mendiseminasikan hasil yang diperoleh, termasuk penyiapan staf guru, melalui lokakarya dan sebagainya.

6.      Model Action Research
Model Action research mengutamakan penelitian sistematis oleh tenaga-tenaga peneliti kurikulum profesional mengenai masalah “kurikulum. Langkah pertama ialaha meneliti adanya suatu masalah dalam kelas / sekolah yang perlu diteliti secara mendalam. Langkah kedua ialah meneliti faktor” penyebabnya. Langkah ketiga ialah merencanakan cara pemecahanya. Langkah keempat ialah melaksanakan keputusan tentang pemecahan masalah. Akhirnya dilakukan penelitian tentang kekuatan dan kelemahanya sebagai masukan untuk upaya perbaikan.

7.      The Demonstration Model
Model demonstration pada dasarnya bersifat Grass roots, datang dari bawah. Menurut Smith Stanley dan Shores ada dua variasi model demonstrasi ini.
Pertama, sekelompok guru dari satu sekolah atau beberapa sekolah ditunjuk untuk melaksanakan suatu percobaan tentang pengembangan kurikulum. Proyek ini bertujuan mengadakan penelitian dan pengembangan tentang salah satu atau beberapa segi/komponen kurikulum. Hasil penelitian dan pengembangan kurikulum ini diharapakan dapat digunakan lagi lingkungan yang lebih luas.
Bentuk yang kkedua, kurang bersifat formal.
Beberapa guru yang merasa kurang puas dengan kurikulum yang ada, mencoba mengadakan penelitian dan pengembangan sendiri.
Mereka mencoba menggunakan hal-hal lain yang berbeda dengan yang berlaku. Dengan kegiatan ini mereka mengharapkan ditemukan kurikulum atau aspek tertentu dari kurikulum yang lebih baik, untuk kemudian digunakan didaerah yang lebih luas. 


8.      Emerging Technical Models
Perkembangan bidang teknologi dan ilmu pengetahuan serta nilai – nilai efesiensi efektivitas dalam bisnis juga mempengaruhi perkembangan model-model kurikulum.
Tumbuh kecenderungan – kecenderungan baru yang didasarkan atas hal itu, diantaranya.
a.       The Behavioral Analysis Model, menekankan penguasaan perilaku atau kemampuan. Suatu perilaku/kemampuan yang kompleks diuraikan menjadi perilaku-perilaku yang sederhana yang tersusun secara hierarkis. Siswa mempelajari perilaku-perilaku tersebut secara berangsur-angsur mulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks.
b.      The System Analysis Model berasal dari gerakan efisiensi bisnis. Langkah pertama dari model ini adalah menentukan spesifikasi perangkat hasil belajar yang harus dikuasai siswa. Langkah kedua adalah menyusun instrumen untuk menilai ketercapaian hasil-hasil belajar tersebut. Langkah ketiga, mengidentifikasi tahap-tahap ketercapaian hasil serta perkiraan biaya yang diperlukan, Langkah keempat, membandingkan biaya dan keuntungan dari beberapa program pendidikan.
c.       The Computer-Based Model, suatu model pengembangan kurikulum dengan memanfaatkan komputer..Pengembangannya dimulai dengan mengidentifikasi seluruh unit-unit kurikulum, tiap unit kurikulum telah memiliki rumusan tentang hasil-hasil yang diharapkan. Kepada para siswa dan guru-guru diminta untuk melengkapi pertanyaan tentang unit-unit kurikulum tersebut. Setelah diadakan pengolahan disesuaikan dengan kemampuan dan hasil-hasil belajar yang dicapai siswa disimpan dalam komputer.


BAB III
PENUTUP

B.     Kesimpulan
Istilah “kurikulum” memiliki berbagai tafsiran yang dirumuskan oleh pakar-pakar dalam bidang pengembangan kurikulum sejak dulu sampai dengan dewasa ini. Tafsiran – tafsiran tersebut berbeda-beda satu dengan yang lainya, sesuai dengan titik berat dari bahasa latin, yakni “Curricule” artinya jarak yang ditempuh oleh seorang pelari. Pada waktu pendidikan yang harus dtempuh oleh siswa yang bertujuan memperoleh ijazah.
Landasan pengembangan kurikulum terdiri dari 1) Landasan Filosofis, 2) Landasan Sosial – Budaya – Agama, 3) Landasan Ilmu Pengetahuan Teknologidan seni, 4) Landasan Kebutuhan Masyarakat, 5) Landasan Perkembangan Masyarakat.
Dalam pengembangan kurikulum menggunakan tiga prinsip yaitu: 1) Prinsip Relevansi, 2) prinsip Kontinuitas, 3) Pinsip Fleksibilitas dan menggunakan model – model pengembangan kurikulum yang dapat meningkatkan mutu pendidikan yang terdiri dari model Rogers, Model R. Zais, Model Grass Roots, Model Beauchamp dan model Hilda Tada

C.    Saran
Sebaiknya model-model pengembangan digunakan dalam sekolah seuai dengan situasi sekolah tersebut. Serta dapat menempatkan model pengembangan kurikulum agar dapat meningkatkan mutu pendidikan agar tercapai tujuan nasional.

D.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan dlam makalah ini adalah sebagai berikut:
  1. Dapat mengerti pengertian pengembanngan kurikulum
  2. Dapat mengerti apa saja yang melandasi pengembangan kurikulum
  3. Dapat memahami prinsip pengembangan kurikulum
  4. Dapat menerapkan model-model pengembangan kurikulum


DAFTAR PUSTAKA

1.      Prof. DR. Max Darsono. 2000. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP PGRI Semarang.
2.      Dr. Dimyati, Drs. Mudjiono.2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineke Cipta.
3.      Hamalik, Dr. Oemar. 2008. Kurikulum dan Pmebelajaran. Jakarta: Bumi Aksara
4.      Prof. Sukmadinata, DR. Nana Syaodih. 1997. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek

MODEL DAN METODE MEMBACA


BAB II
MODEL MEMBACA
 1.      Model Membaca

Model membaca

·      Cara kerja fisik berkaitan dengan bagaimana mata membaca atau memandang bacaan yang merupakan sistem grafis
·      Cara kerja spikis berkaitan dengan bagaimana cara kerja otak memahami bacaan.
·     Model membaca adalah : gabungan cara kerja fisik dan spikis yang merupakan proses dalam membaca karena membaca dimulai dari proses visual (mata) dan di akhiri pada proses yang terdapat di otak yaitu memahami atau mengkritisi bacaan.

2.      Pendekatan dalam model membaca
Munculnya aberbagai model membaca di latar belakangi oleh pendekatan yaitu pendekatan taksonomik, psikologis lingustik, psikomotorik dan proses informasi.

            Pendekatan taksonomik
Dikembangkan oleh Gray. Berpendapat dalam proses membaca diperlukan empat ketrampilan yaitu :
a.       Mengenal kata
b.      Komprehensif
c.       Reaksi
d.      Asimilasi
            Pendekatan Psikologis
Terdiri dari 2 yaitu :
a.       Pendekatan behavioral dipelopori skinner th 1957.  berpendapat : keterampilan membaca merupakan hasil proses membaca yang diperoleh dari hubungan antara rangsangan dan reaksi. Dikenal dengan sebutan S – R, yaitu dengan stimulus dan respons. Untuk dapat terampil membaca, seseorang pembaca (siswa) haruslah dibiasakan untuk membaca. Tugas guru adalah memberikan tugas kepada siswa untuk membaca sesering mungkin sesuai dengan kemampuan siswa.

b.      Pendekatan kognitif dipelopori piaget. Berpendapat : tingkah laku manusia adalah proses aktivitas integratif yang terjadi dalam otak. Manusia merupakan makhluk pengumpul, pemilik dan pemakai informasi yang berpusat diotak. Menurut pandangan kognitif, membaca tidaklah sekedar memperoleh rangsangan simbol-simbol tertulis melalui mata, tetapi yang lebih penting adalah memproses rangsangan tersebut di dalam otak.

            Pendekatan Proses Informasi
Tokoh yang dikenal dalam pendekatan proses informasi adalah Smith. Ia menyatakan bahwa keterampilan membaca merupakan suatu proses informasi. Pendekatan ini berprinsip bahwa membaca adalah aktivitas komunikasi yang memungkinkan informasi di transformasikan dari penulis kepada pembaca.
Dalam proses membaca terjadi komunikasi yang tidak langsung antara penulis dan pembaca. Pesan penulis disampaikan dalam bentuk tulisan dengan beragam wujud.

            Pendekatan Psikomotorik
Pendekatan ini dikembangkan oleh Holmes dan Singer. Penerapan pendekatan ini dalam membaca digunakan untuk mengukur tingkat kenyaringan dan kecepatan baca yang dilakukan pembaca. Kenyaringan dan kecepatan baca diukur secara statistik dengan menggunakan analisis substrata.

            Pendekatan Linguistik.
Dikembangkan dalam dua periode.
a.       Periode pertama oleh bloomfield, fires, Lefevre.
Mengatakan bersama bahwa pengertian membaca adalah aktivitas bolak-balik rangsangan berupa tulisan yang kembali ke ujaran.
b.      Periode ke dua oleh Chomsley, Halle, Goodman dan Ruddell.
Pengamat teori ini mempunyai keyakinan bahwa siswa lahir telah memiliki sejumlah potensi yang memungkinkansiswa mengembangkan pola-pola bahasanya apabila kemungkinan untuk itu telah tiba. Terkait dengan itu tugas guru adalah melack atau mengkoordinasikan potensi yang telah dimiliki siswa agar berkembang dengan baik.

3.      Model Membaca
Model membaca yang terlahirkan ternyata banyak. Walaupun banyak, model membaca dapat diklasifikasi menjadi tiga model, yaitu model membaca bawah atas, model membaac atas bahwa, dan model, membaca timbal balik (Harjasujana dan Mulyati 1997 : 28)

            Model Membaca Bawah Atas
Model Membaca Bawah Atas (MMBA) atau bottom-up merupakan model membaca yang bertitik tolak dari pandangan bahwa yang mempunyai peran penting (primer) dalam kegiatan atau proses membaca adalah struktur bacaan, sedangkanstruktur pengetahuan yang dimiliki (di dalam otak) pembaca mempunyai peransampingan (sekunder). Pembaca bergantung sekali pada bacaan. Dalam bacaan, pembaca melakukan penyandian kembali simbol-simbol tertulis sehingga mata pembaca selalu menatap bacaan. Hasil penyandian kembali dikirim ke otak melalui syaraf visual yang ada di mata untuk dipahami. Karena sistem atau cara kerja berawal dan bergantung pada baaan yang berada di bawah dan baru dikirimkan ke otak yang berada di atas, sistem membaca seperti itu dinamakan model membaca bawah atas.

Apabila dibagankan modelmembaca bawah atas adalah berikut :
Bagan 3
Model Membaca Bawah Atas

Tokoh yang menjadi pencetus MMBA adalah Flesch, gagne, Gough, Fries, La burge, dan Samuel.

Bagan 4
Model Membaca Nyaring

Model membaca Bawah Atas è Model membaca yang bertitik tolak dari pandangan bahwa yang mempunyai peran penting (primer) dalam kegiatan membaca Tokoh yang menjadi pencetus MMBA adalah Flesch, gagne, Gough, Fries, La burge, dan Samuel.

            Model Membaca Atas Bawah
Jika pada MMBA struktur dalam teks (bacaan) sebagai unsur primer dan pengetahuan sebagai unsur sekunder, MMAB berpandangan yang sebaliknya, yaitu pengetahuan merupakan unsur primer dan struktur bacaaan merupakan unsur sekunder. Pembaca hanya melihat stimulus yang berupa isyarat simbol grafis seperlunya saja, selebihnya pembaca menggunakan isyarat kompetensi kognitif dankompetensi bahasa yang telah dimilikinya. Karena kompetensi kognitif dankompetensi bahasa berada di otak pembaca dan otak pembaca berada di atas bacaan, model membaca ini disebut model membaca atas bawah. MMAB dapat dibagankan berikut :

Bagan 7
Model Membaca Atas Bawah
                      
Proses membaca berdasarkan bagan 7 adalah berikut ini.
1.       Otak pembaca mengendalikan mata untuk melihat (membaca) lambang-lambang penafsiran grafis seperlunya saja sesuai yang dibutuhkan.
2.       Rangsangan yang berupa lambang-lambang grafis yang telah dipilih diteruskan oleh syaraf mata ke otak.
3.       Pembaca memberi penafsiran (pemahaman) dari bacaan yang dibaca berdasarkan kompetensi kognitif dan kompetensi bahasa yang dimilikinya.
Tokoh yang menjadi perintis MMAB adalah Goodman, Smith, Shuy, dan Nutall.

            Model Membaca Timbal Balik
MMTB merupakan cara kerja pembaca yang berlangsung secara simultan membaca tidak lagi merupakan proses yang linier dan berurut-lanjut, melainkan proses timbal balik yang bersifat simultan. Pembaca menggunakan MMBA dan MMAB secara bergantian. Suatu saat MMBA yang berperan dan suatu saat MMAB yang berperan.

Bagan 9
Model Membaca Timbal Balik

Tokoh yang mencanangkan MMTB adalah Teoris Rumelhart pada tahun 1977.
Di pandang dari metode pembelajaran, model Rumelhart mempunyai keunggulan. Keunggulan yang pertama adalah model tersebut sudah membaur dengan berbagai strategi pembelajaran yang telah menunjukkan keberhasilannya.
Keunggulan yang kedua adalah model Rumelhart sangat cocok digunakan untuk pembelajaran membaca pada tingkat sekolah menengah, baik menengah pertama (SMP) maupun menengah atas (SMA).
“Tidak ada gading yang tak retak” demikianlah pepatah yang berlaku juga pada model Rumelhart. . Ada dua keretakan (kelemahan) dari model tersebut. Keretakan yang pertama adalah model Rumelhart tidak menyinggung aploikasi dan tidak menyinggung masalah pada pra membaca, yaitu kondisi sebelum seorang pembaca membaca bacaan. Kedua adalah model tersebut tidak menarik karena tidak ada hal yang baru, terutama bagi guru.

BAB III
METODE MEMBACA

Metode membaca (reading method) merupakan tingkat penerapan teori-teori membaca yanga da pada tingkat model membaca. Penerapan metode membaca dilakukan dengan cara melakukan pemilihan kemahiran khusus yang akan digunakan untukmembaca, yaitu kemahiran memanfaatkan informasi visuola dan nonvisual. Dari berbagai ragvam metode membaca dapat diklasifikasi menjadi tiga, yaitu metode dasar, metode menengah, dan metode lanjutan.

Metode Dasar
Metode dasar merupakan metode membaca yang digunakan atau diperuntukkan pembaca semula. Pembaca pemula adalah pembaca yang baru kali pertama membaca atau belajar membaca.
Menurut Wiryodijoyo (1989:35) dan Akhadiah (1992:32), metode membaca dasar (permulaan) ada lima, yaitu metode abjad, bunyi, kupas rangkai suku kata, kata lembaga, global, dan struktur analisis dan sintesis (SAS).

              3.1.1.      Metode Abjad dan Metode Bunyi
Metode abjad merupakan metode membaca yang digunakan atau diperuntukkan untuk pembaca pemula yang baru belajar membaca atau mengenal huruf dengan prosedur huruf dibaca dalam wujud abjad.
Contoh : Huruf a, b, c, d, dan seterusnya dibaca a, be, ce, de, dan seterusnya.
Metode bunyi merupakan metode membaca yang digunakan atau diperuntukkan untuk pembaca pemula yang baru belajar membaca atau mengenal huruf dengan cara huruf dibaca di dalam wujud bunyi.
Contoh : Huruf a, b, c, d, dan seterusnya dibaca a, eb, ec, ed, dan seterusnya.

              3.1.2.      Metode Kupas Rangkai Suku Kata dan Metode Kata Lembaga.
Metode kupas rangkai suku kata merupakan metode membaca yang digunakan atau diperuntukkan pembaca pemula dengan prosedur mengurai dan merangkai suku kata yang dibaca. Bacaan yang dibaca dalam bentuk suku kata, misalnya : suku kata bo – la, bu – sa, dan bu – ku.
Suku kata-suku kata tersebut dibaca dengan prosedur :
1.      Tiap suku kata diurai atau dibaca huruf demi huruf.
2.      Huruf demi huruf dirangkai atau dibaca menjadi suku kata.
Contohnya adalah :
bo – la
b – o – l – a
bo – la
bu – sa
b – u – s – a
bu – sa
bu – ku
b – u – k – u
bu – ku

Metode kata lembaga adalah metode membaca yang digunakan atau diperuntukkan pembaca pemula dengan prosedur mengurai dan merangkai kata lembaga yang dibaca.
Bacaan yang dibaca tidak dalam bentuk suku kata, namun dalam bentuk kata. Misalnya kata topi, mata, dan sapu. 
Kata-kata tersebut dibaca dengan prosedur :

1.      Kata dibaca (diuraikan) menjadi suku kata-suku kata,
2.      Suku kata dibaca (diurai) menjadi huruf demi huruf,
3.      Huruf demi huruf dibaca (dirangkai) menjadi suku kata,
4.      Suku kata-suku kata dibaca (dirangkai) menjadi kata.

Contohnya adalah :
topi
to – pi
t – o – p – i
to – pi
topi
mata
ma – ta
m – a – t – a
ma – ta
mata

sapu
sa – pu
s – a – p – u
sa – pu
sapu

Persamaan kedua metode itu adalah menggunakan prosedur yang sama, yaitu mengurai dan merangkai suku kata mengurai suku kata  menjadi huruf demi huruf dan merangkai huruf demi huruf menjadi suku kata, sedangkan metode kata lembaga mengurai kata menjadi suku kata – suku kata, mengurai suku kata menjadi huruf-huruf, merangkai huruf-huruf menjadi suku kata merangkai suku kata – suku kata menjadi kata.

              3.1.3.      Metode Global
Metode global merupakan yang digunakan atau diperuntukkan pembaca pemula dengan prosedur memperkenalkan bacaan secara utuh (biasanya kalimat), membaca bagian demi bagian (unsur) bacaan, dan membaca secara utuh kembali. Prosedur penerapan metode ini adalah berikut ini.
1.      Pembaca membaca beberapa kalimat.
2.      Salah satu kalimat dipilih untuk dibaca lebih lanjut.
3.      Kalimat yang terpilih dibaca (diurai) kata demi kata.
4.      Kata-kata tersebut dibaca (diurai) suku kata demi suku kata.
5.      Suku kata-suku kata itu dibaca (diurai) huruf demi huruf.
6.      Huruf dan huruf dibaca (dirangkai) menjadi suku kata.
7.      Suku kata-suku kata dibaca (dirangkai) menjadi suku kata.
8.      Kata-kata dibaca (dirangkai) menjadi kalimat.
Penerapan metode ini adalah :
a.       Membaca beberapa kalimat, misalnya :
Ini bola saya
Ini bola dia
Ini bola adik
b.      Kalimat yang dipilih dibaca dengan cara diurai dan dirangkai, misalnya kalimat “ini bola saya”

                                              Ini bola saya
                Ini                                 bola                         saya
              I – ni                             bo – la                     sa – ya
            I – n – i                       b – o – l – a             s – a – y – a
              I – ni                             bo – la                     sa – ya
                Ini                                 bola                         saya
                                              Ini bola saya

              3.1.4.      Metode SAS
Metode Struktur Analisis Sintaksis (SAS) merupakan metode membaca permulaan yang terdiri atas tiga tahapan, yaitu membaca secara struktur, analisis, dan sistaksis. Dalam penerapannya, metode SAS dibagi menjadi dua jenis, yaitu metode SAS tanpa buku dan dengan buku (Zuchdi 1997:55)

3.1.4.1.          Merekam Bahasa Siswa
Kalimat yang digunakan sebagai bahan bacaan adalah yang sesuai dengan tingkat baca siswa sehingga bahasa hasil rekaman dipilih terlebih dahulu, tidak semua bahasa hasil rekaman dipakai sebagai bahan bacaan.

3.1.4.2.          Menampilkan Gambar Sambil Cerita
Guru menampilkan gambar kepada siswa sambil bercerita. Gambar yang diperlihatkan adalah gambar yang sederhana, mudah dilihat, dan dikenal siswa.

3.1.4.3.          Membaca Gambar
Membaca gambar caranya sama dengan menampilkan gambar sambil cerita, yaitu guru memperlihatkan sebuah gambar. Setelah menampilkan gambar, guru mengucapkan sebuah kalimat gambar tersebut. Kalimat berikutnya tidak dari guru, melainkan dari siswa.

3.1.4.4.          Membaca Gambar dengan Kartu Kalimat
Kali pertama yang dilakukan guru dalam membaca gambar dengan kartu kalimat adalah memperlihatkan gambar pada siswa.

3.1.4.5.          Membaca secara Struktural
Membaca secara struktural (s) adalah membaca bacaan yang berupa kalimat-kalimat secara struktural, yaitu membaca kata demi kata yang menyusun kalimat yang dibacanya.

3.1.4.6.          Membaca secara Analisis
Membaca secara analisis merupakan membaca dengan cara menganalisis (mengurai) unsur bacaan yang besar, kalimat yang dibaca menjadi kata-kata, kata-kata menjadi suku kata-suku kata, dan suku kata menjadi huruf-huruf.

3.1.4.7.          Membaca secara Sintesis
Membaca secara sintesis adalah membaca dengan cara mensintesis (merangkai) unsur pembentuk bacaan yang kecil menjadi yang lebih besar, yaitu merangkai huruf-huruf menjadi suku kata, suku kata-suku kata menjadi kata, dan kata-kata menjadi kalimat.

Metode Menengah
Metode menengah merupakan metode membaca yang digunakan atau diperuntukkan untuk pembaca yang sudah mahir membaca permulaan. Kemahiran yang didapat dengan metode ini adalah tidak hanya penyandian kembali simbol-simbol grafis tersebut.

Metode Kata
Metode kata merupakan cara membaca kata demi kata pada sebuah bacaan. Penerapan metode ini didasarkan atas pandangan (asumsi) bahwa bacaan merupakan susunan atas kata-kata yang mengandung makna.

Metode Frase
Metode frase merupakan cara membaca unsur bacaan yang berbentuk frase. Pembaca menggerakkan matanya dari frase ke frase dan memahami atas frase-frase yang dibacanya. Metode ini didasarkan atas asumsi bahwa penulis menyampaikan ide-ide dan perasaannya bukan dalam bentuk kata, melainkan dalam bentuk frase (Hardjasujana dan Mulyati 1997:177).

Metode Kalimat
Metode kalimat merupakan cara membaca dengan menelaah kalimat demi kalimat yang adaal dalam bacaan. Metode ini diterapkan dengan asumsi bahwa penulis menyampaikan ide-idenya atau gagasannya dalam bentuk kalimat.
Dengan menerapkan metode ini pembaca akan dapat membaca lebih efisien dan efektif. Keefektifan metode ini adalah pembaca akan lebih mudah memahami bacaan karena pembaca dapat menangkap ide demi ide yang dituangkan dalam bentuk kalimat.

Metode Paragraf
Metode paragraf merupakan cara membaca dengan menelaah paragraf demi paragraf.

Metode Lanjutan
Metode lanjutan merupakan cara yang diterapkan dalam membaca oleh pembaca yang sudah menguasai metode menengah untuk mengembangkan dan meningkatkan kemahiran membaca. Cara membaca yang dimaksud adalah bagaimana pembac dapat membaca seefisien dan seefektif mungkin. Pembaca dalam waktu yang sesingkat-singkatnya dapat membaca sebanyak-banyaknya dan dapat memahami bacaan yang dibaca dengan baik.

Metode S – D4
Metode S – D4 adalah metode membaca yang dilaksanakan dengan tahap survai dan decide dengan empat alternatif. (Gordon 2004:80)
Pembahasan mengenai metode S – D4 adalah berikut ini.
1.      Survai adalah kegiatan pembaca dalam melakukan aktivitas membaca secara sepintas lalu untuk mengidentifikasi struktur dan pokok-pokok pikiran utama bacaan. Survai dilakukan pembaca secara cepat.
2.      Decide adalah proses pembaca memutuskan untuk melakukan salah satu empat pilihan berikut ini.
a.       Skip. Artinya adalah mengabaikan atau sama sekali tidak membca.
b.      Membcaca sepintas. Pilihan ini dilakukan apabila pembaca merasa perlu membaca lagi bacaan yang telah disurvai.
c.       Membaca dengan kecepatan wajar. Pilihan ini dipilih apabila pembaca pembaca belum tahu tentang bacaan yang telah disurvai sehingga pembaca merasa perlu membacanya dengan kecepatan yang normal.
d.      Mempelajari materi bacaan. Pada pilihan ini, pembaca membaca dengan sungguh-sungguh, teliti, dan hati-hati sehingga kecepatan bacanya relatif pelan.

Metode P2R
Metode P2R merupakan metode membaca yang terdiri atas tahap preview, read, dan review yang biasanya digunakan sebagian besar pembaca cepat dan efisien.(Gordon 2006: 79). Penjelasan ketiga tahap dalam metode ini adalah sebagai berikut.
1.      Preview adalah membaca sepintas lalu untuk mengetahui struktur bacaan, pokok-pokok pikiran, relevansi, dan sebagainya. Pada tahap ini, pembaca melakukan pengenalan terhadap bacaan mengenai hal-hal yang pokok pengenalan terhadap bacaan mengenai hal-hal yang pokok yang bersifat Iuran.
2.      Read adalah membaca secepat mungkin sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dan sesuai tingkat kesulitan bacaan. Tujuan umum membaca adalah mencari informasi yang ada dalam bacaan.
3.      Review adalah membaca sepintas lalu untuk memastikan tidak ada yang terlewatkan dan atau untuk memperkuat igatan terhadap pokok-pokok pikiran yang telah didapat dari tahap read. Pada tahap ini, pembaca membaca bacaan seperlunya saja seperti pada preview. Yang berbeda adalah tujuannya; jika preview untuk mengenal bacaan, sedangkan review untuk memantapkan kembali apa yang telah dipahami dan untuk mengecek apakah bacaan sudah dibaca sesuai tujuan.
Metode S2QR
Metode S2QR adalah metode membaca yang digunakan untuk membaca tabel, grafik atau diagram yang tahap-tahapnya terdiri atas survai, seek, question, dan reading.
Pembaca yang sedang studi membaca membaca tabel dengan tahap survai, seek, question, dan reading.
1.      Survai merupakan kegiatan membaca sepintas hal-hal yang pokok dalam tabel.
2.      Seek adalah kegiatan pembaca mencari informasi pada kolom dan informasi tambahan yang ada diluar kolom tabel.
3.      Question adalah kegiatan pembaca membaut pertanyaan tentang isi tabel atau tujuan membaca tabel.
4.      Reading adalah kegiatan membaca tabel secara seksama dan teliti sehingga diperoleh informasi-informasi yang dicari. Pembaca dalam melakukan tahap ini berpedoman pada tahap question.

Metode GPID
Metode GPID diusulkan oleh Merrit. Menurutnya, metode GPID merupakan metode membaca yang terdiri atas empat tahap yaitu, goall, plans, implementation, dan develoment (yap 1978:114-115)
Penjabaran metode tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Goall adalah apa yang diharapkan, dimaksud atau apa tujuan membaca. Tahap awal metode ini adalah menentukan tujuan membaca.
2.      Plans adalah rencana untuk mencapai tujuan. Tujuan yang sudah dirumuskan diusahakan untuk dicapai. Pada tahap ini, pembaca menyusun strategi untuk mencapai tujuan pembaca.
3.      Implementasi adalah pelaksanaan membaca. Pada tahap ini pembaca melakukan kegiatan membaca dengan memperhatikantujuan yang ingin dicapai dan rencana yang sudah disusun untuk mencapai tujuan tersebut.
4.      Development adalah proses evaluasi dan proses mengambil simpulan. Yang dievaluasi pada tahap ini adalah apakah tujuan membaca telah ditercapai, apakah rencana telah berjalan sesuai yang direncakan, dan apakah kegiatan secara keseluruhan telah tercapai.

Metode PACER
Metode PACER merupakan metode membaca yang terdiri atas lima tahap, yaitu preview, assess, chosse, expedite, dan review (Goordon 2006:80).
Penjelasan metode ini adalah berikut ini :
1.      Preview atau meninjau merupakan kegiatan membaca bacaan secar sepintas lalu untuk mengenali hal-hal yang bersifat iuran.
2.      Access atau menaksir merupakan kegiatan membaca untuk menentukan tujuan membaca dan materi baca.
3.      Choose atau memilih merupakan kegiatan membaca yang berkaitan dengan memilih dan melakukan membaca dengan teknik yang tepat.
4.      Expedite atau mempercepat merupakan kegiatan membaca untuk mempercepat kecepatan baca.
5.      Review atau meninjau pembaca untuk membaca kembali secara sepintas.

Metode SQ3R
Metode SQ3R merupakan metode membca yang ditujukan untuk kepentingan studi yang terdiri atas lima tahap, yaitu survey, question reading, recite dan review (Tarigan 1990:54).



Metode PQ3R
Metode PQ3R merupakan membca untuk studi yang meliputi tahap prepare (tahap mula), question, reading, recite, dan review (Nurhadi 2005:129).

Metode PQRST
PQRST adalah metode membaca buku untuk keperluan studi yang meliputi lima tahap. Summerize merupakan tahap keempat dari metode PQRST yang berupa kegiatan pembaca untuk membuat ringkasan informasi yang telah diperoleh dari buku yang dibacanya.

Metode SUPER SIX Re
Metode SUPER SIX Re merupakan metode membaca buku untuk keperluann studi yang meliputi enam tahap, yaitu reconnoiter, rad, recite, record, review, dan reflect.

Metode OK5R
Metode OK5R merupakan metode membaca buku untuk kepentingan studi yang terdiri atas tahap overview, key ideas, rad, record, recite, review, dan reflect. Tahap yang sama adalah tahap read, recite, review, dan overview (menyelidiki) sama dengan survai. Tahap yang tidak sama  adalah key ideas, record, dan reflect. Key ideas (ide-ide kunci) merupakan tanap kedua dari metode ini yang berupa kegiatan membaca untuk memisah-misahkan ide-ide atau pikiran-pikiran utama dari kumpulan ide-iden penjelas.

Cari Skripsi | Artikel | Makalah | Panduan Bisnis Internet Disini

Custom Search
 

Mybloglog

blogcatalog

Alphainventions.com

Followers

TUGAS KAMPUS Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template