TUGAS KAMPUS

Forum MT5 (1 Post = 0.2$ )

MINUMAN KERAS/BERAKOHOL

MAKALAH
PENDIDIKAN KESEHATAN MASYARAKAT
(MINUMAN KERAS/BERAKOHOL)

PENDAHULUAN

Terlepas dari pro dan kontra diharamkannya MSG Ajinomoto oleh MUI baru-baru ini, kejadian tersebut seharusnya membangunkan kita dari tidur panjang selama ini, betapa banyak permasalahan yang dihadapi umat Islam dalam masalah kehalalan produk-produk pangan. Oleh karena itu,
ilmuwan diharapkan ikut berperan dalam menyelesaikan permasalahan ini demi kepentingan umat. Agaknya perkembangan teknologi yang sedemikian pesat belum sejalan dengan perkembangan pemahaman hukum Islam dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, ijtihad dalam masalah kehalalan produk pangan ini sangat dibutuhkan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi umat Islam dalam masalah ini.
Minuman keras / beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif dan konsumsinya menyebabkan penurunan kesadaran. Di berbagai negara, penjualan minuman beralkohol dibatasi ke sejumlah kalangan saja, umumnya orang-orang yang telah melewati batas usia tertentu.

Efek Samping
Bila dikonsumsi berlebihan, minuman beralkohol dapat menimbulkan ganggguan mental organik (GMO), yaitu gangguan dalam fungsi berpikir, merasakan, dan berprilaku. Timbulnya GMO itu disebabkan reaksi langsung alkohol pada sel-sel saraf pusat. Karena sifat adiktif alkohol itu, orang yang meminumnya lama-kelamaan tanpa sadar akan menambah takaran/dosis sampai pada dosis keracunan atau mabuk.

Jenis minuman beralkohol diantaranya sebagai berikut:
• AnggurBir
• Bourbon
• Brendi
• Brugal
• Caipirinha
• Chianti
• Jägermeister
• Mirin

Pengaruh Minuman Keras Terhadap Lingkungan
Sering kita mendengar, membaca, bahkan menyaksikan baik melalui media massa, cetak maupun elektronik, khususnya televisi di tayangkan sebuah atraksi bulldozer yang sedang memusnahkan ribuan bahkan jutaan botol minuman keras yang "di algojoi" oleh Polri bersama pihak terkait lainnya. Sehingga menimbulkan berbagai tanggapan-tanggapan dari berbagai kalangan khususnya dari kalangan Agama sangat bangga akan sikap tegar Polri untuk memberantas peredaran minuman keras sampai keakar-akarnya. Karena minuman keras dapat mengancam eksistensi bangsa kita, yang dalam jangka pendek dapat menggoyahkan stabilitas keamanan dan dalam jangka panjang dapat mengancam masa depan bangsa.
Di dalam Bhagavata Purana (I. 17. 38. - 39) terdapat keterangan mengenai mata rantai kejahatan yang di mulai dari Perjudian, mabuk-mabukan, pelacuran, perkelahian dan kehilangan rasa kasih sayang diantara sesama mahluk hidup yang berakibat munculnya rasa benci dan iri hati. Jika manusia sudah diselimuti oleh sifat benci dan iri hati maka ia akan hilang rasa kegembiraan yang paling besar, dan tidak akan ada kegembiraan maupun ketenangan dihati mereka yang memiliki rasa benci.

Pengaruh Miras Terhadap Keturunan
Pecandu miras melakukan tidakan kejahatan yg tidak terma'afkan terhadap anak cucunya. Karena, ia menyebabkan anak2 mereka terlahir dengan bentuk tubuh yg jelek & akhlak yg buruk, terutama sel2 saraf, tak terkecuali sperma. Penyakit2 yg disebabkan miras sampai kepada keturunan2nya lewat pembuahan sel telur, sehingga 'alaqah (bakal janin) pun menjadi sakit.

Miras merupakan salah satu faktor utama terjadinya keguguran. Hal ini dapat menyebabkan seorang ibu mengalami komplikasi2 berbahaya yg bisa membuat meninggal dunia.
Jika seorang bayi selamat dari kematian saat ia masih barupa janin di dalam rahim, itu tidak berarti ia telah terbebas dari bahaya-bahaya miras yg disebabkan kedua orang tuanya. Sebaliknya, ia akan manuai busuk yg mereka tanam untuknya, serta menderita karena tekanan gangguan berbahaya 7 penyakit mematikan yg ingin mereka timpakan kepadanya. Anak ini akan menjadi orang menderita, yang tidak mengerjakan dosa dan tidak minum racun.

Penanggulangan Masalah
• Pendidikan Agama sejak dini
• Pembinaan kehidupan rumah tangga yang harmonis dengan penuh perhatian dan kasih saying.
• Menjalin komunikasi yang konstruktif antara orang tua dan anak
• Orang tua memberikan teladan yang baik kepada anak-anak.
• Anak-anak diberikan pengetahuan sedini mungkin tentang narkoba, jenis, dan dampak negatifnya

Factor Perilaku
Menurut teori Lawrence Green (1980), mengemukakan bahwa perilaku individu mempunyai pengaruh positif terhadap pemeliharaan dan peningkatan kesehatan, yang dipengaruhi oleh 3 faktor pendukung yaitu faktor prediposisi (predisposing factors), faktor pendukung (Enabling factors) dan faktor pendorong (reinforcing factors).

a. Faktor prediposisi (predisposing factors)
Masalah dalam hidup manusia berasal dari dua sumber. Pertama, yang berasal dari luar diri, yang seringkali disebut sebagai faktor pencetus/precipitating factor, dan yang kedua berasal dari dalam diri individu itu sendiri. Yang kedua ini seringkali disebut sebagai faktor bawaan/predisposing factor, yang sebenarnya sudah menjadi masalah pada dirinya sendiri sebelum ada faktor pencetus yang hadir.
Faktor ini merupakan faktor yang mempermudah dalam upaya penggunaan kesehatan dan menjadi dasar atau motivasi yang mencakup:
- Kebiasaan minum minuman keras sudah menjadi kebiasaan bagi pemuda / remaja dikota-kota besar yang salah pergaulan dan sebagai pelarian dari suatu masalah.
- Kepercayaan pemuda/remaja sangat percaya jika meminum minuman keras dapat menghilangkan stres, beban jadi hilang dan lain-lain.

b. Faktor pendukung (Enabling factors)
Faktor ini mencakup:
- Ketersediaan faktor: Minuman Keras umumnya mudah ditemukan, hal ini dikarenakan adanya warung atau toko yang masih menjual minuman keras secara bebas.
- Ketercapaian fasilitas: fasilitas perkotaan atau kampung yang padat penduduk memungkinkan banyaknya warung atau toko menyediakan/menjual minuman keras.

c. Faktor pendorong (reinforcing factors).
Sebagai faktor pendorong untuk berperilaku yang diharapkan, faktor ini mencakup: sikap dan perilaku kesehatan, seminar tentang kesehatan, ceramah dari tokoh masyarakat Undang-undang dan sebagainya.

Metode dan Media Pembelajaran
Metode Ceramah
- Metode ceramah yang dimaksud disini adalah ceramah dengan kombinasi metode yang bervariasi
- Ceramah dilakukakkn dengan ditujukan sebagai pemicu terjadinya kegiatan yang partisipatif (curah pendapat, disko, pleno, penugasan, studi kasus, dll)
- Selain itu, ceramah yang dimaksud disini adalah ceramah yang cenderung interaktif, yaitu melibatkan peserta melalui adanya tanggapan balik atau perbandingan dengan pendapat dan pengalaman peserta
- Media pendukung yang digunakan sepertibahan serahan (handouts), transparansi yang ditayangkan dengan OHP, bahkan presentasi yang ditayangakan dengan LCD, Tulisan-tulisan dikartu menetapkan dan/kertas plano, dll

Media Pembelajaran
Peran media dalam pembelajaran:
- Membuat konkret konsep yang abstrak
- Mengetengahkan bagian tertentu yang dianggap penting
- Memberikan pengganti pengalaman langsung
- Mendekatkan obyek yang sukar atau berbahaya untuk didekati
- Memberikan pengalaman segi pengamatan
- Menyajikan perbedaan warna secara visual
- Menyajikan informasi yang memerlukan gerak

Beberapa prinsip dalam pebuatan media pembelajaran dianataranya:
Leaflet
- ukuran kecil untuk dibawa
- informasi detail tentang sesuatu hal
- gunakan hal yang sesuai dengan audience
- lengkapi dengan gambar atau foto untuk memperjelas uaraian

Pamflet
- ukuran cukup besar untuk ditempel dan dibaca ditempat umum
- informasi detail tentang sesuatu hal
- gunakan bahasa yang sesuai dengan audience
- lengkapi dengan gambar atau foto untuk memperjelas uraian

KESIMPULAN
Demikian beberapa alternative penanggulangan terhadap masalah miras atau minuman keras yang dapat kami tawarkan. Melihat kondisi social, politik, ekonomi dan hukum kita hingga saat ini masih belum stabil, kami masih pesimis kalau masalah ini dapat diatasi secara tuntas. Pertama sebenarnya kita harus memiliki landasan Hukum yang kuat dan mapan sebagai landasan utama untuk mengatur proses pembangunan social, budaya, ekonomi dan politik serta character building. Namun, demikian, tidak salah kalau kita mencoba sekaligus sebagai trial and error. Apabila kita berhasil, sangat mungkin cara yang kita tempuh akan di pakai secara nasional bahkan International. Namun apabila kita masih gagal dan gagal terus, adalah suatu hal yang lumrah mengingat kondisi social politik dan ekonomi kita saat ini masih dalam proses transisi dan mencari bentuk yang tepat. Kesulitan selanjutnya adalah karena masalah narkoba, miras dan judi erat kaitannya dengan budaya. Merubah suatu budaya atau tradisi sangat sulit dan memerlukan waktu dan proses yang lama.


Share


KRITERIA INDUSTRI

KRITERIA-KRITERIA INDUSTRI DI INDONESIA

• KRITERIA INDUSTRI KECIL
Profil Industri Kecil
Ada dua definisi usaha kecil yang dikenal di Indonesia ;
• Pertama, definisi usaha kecil menurut Undang-Undang No. 9 tahun 1995 tentang Usaha Kecil adalah kegiatan ekonomi rakyat yang memiliki hasil penjualan tahunan maksimal Rp 1 milyar dan memiliki kekayaan bersih, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha, paling banyak Rp 200 juta (Sudisman & Sari, 1996: 5). Kedua, menurut kategori Biro Pusat Statistik (BPS), usaha kecil identik dengan industri kecil dan industri rumah tangga. BPS mengklasifikasikan industri berdasrakan jumlah pekerjanya, yaitu:

1. industri rumah tangga dengan pekerja 1-4 orang.
2. industri kecil dengan pekerja 5-19 orang.
3. industri menengah dengan pekerja 20-99 orang.
4. industri besar dengan pekerja 100 orang atau lebih (BPS, 1999: 250).

Kendati beberapa definisi mengenai usaha kecil namun agaknya usaha kecil mempunyai karakteristik yang hampir seragam. Pertama, tidak adanya pembagian tugas yang jelas antara bidang administrasi dan operasi. Kebanyakan industri kecil dikelola oleh perorangan yang merangkap sebagai pemilik sekaligus pengelola perusahaan, serta
memanfaatkan tenaga kerja dari keluarga dan kerabat dekatnya.

• TENTANG INDUSTRI KECIL DI INDONESIA
Data BPS (1994) menunjukkan hingga saat ini jumlah pengusaha kecil telah mencapai 34,316 juta orang yang meliputi 15, 635 juta pengusaha kecil mandiri (tanpa menggunakan tenaga kerja lain), 18,227 juta orang pengusaha kecil yang menggunakan tenaga kerja anggota keluarga sendiri serta 54 ribu orang pengusaha kecil yang memiliki tenaga kerja tetap.
Kedua, rendahnya akses industri kecil terhadap lembaga-lembaga kredit formal sehingga mereka cenderung menggantungkan pembiayaan usahanya dari modal sendiri atau sumber-sumber lain seperti keluarga, kerabat, pedagang perantara, bahkan rentenir.

Ketiga, sebagian besar usaha kecil ditandai dengan belum dipunyainya status badan hukum. Menurut catatan BPS (1994), dari jumlah perusahaan kecil sebanyak sebanyak 124.990, ternyata 90,6 persen merupakan perusahaan perorangan yang tidak berakta notaris; 4,7 persen tergolong perusahaan perorangan berakta notaris; dan hanya 1,7persen yang sudah mempunyai badan hukum (PT/NV, CV, Firma, atau Koperasi).

Keempat, dilihat menurut golongan industri tampak bahwa hampir sepertiga bagian dari seluruh industri kecil bergerak pada kelompok usaha industri makanan, minuman dan tembakau (ISIC31), diikuti oleh kelompok industri barang galian bukan logam (ISIC36), industri tekstil (ISIC32), dan industri kayu,bambu, rotan, rumput dan sejenisnya termasuk perabotan rumahtangga (ISIC33) masing-masing berkisar antara 21% hingga 22% dari seluruh industri kecil yang ada. Sedangkan yang bergerak pada kelompok usaha industri kertas (34) dan kimia (35) relatif masih sangat sedikit sekali yaitu kurang dari 1%. Tabel 2 menunjukkan bahwa industri kecil dan rumah tangga (IKRT) memiliki peranan yang cukup besar dalam industri manufaktur dilihat dari sisi jumlah unit usaha dan daya serap tenaga kerja, namun lemah dalam menyumbang nilai tambah pada tahun 1990.

Dari total unit usaha manufaktur di Indonesia sebanyak 1,524 juta, ternyata 99,2 persen merupakan unit usaha IKRT. IKRT, dengan jumlah tenaga kerja kurang dari 20 orang, mampu menyediakan kesempatan kerja sebesar 67,3 persen dari total kesempatan kerja. Kendati demikian, sumbangan nilai tambah IKRT terhadap industri manufaktur hanya sebesar 17,8 persen. Banyaknya jumlah orang yang bekerja pada IKRT memperlihatkan betapa pentingnya peranan IKRT dalam membantu memecahkan masalah pengangguran dan pemerataan distribusi pendapatan.

Meneg Koperasi dan UKM
Usaha Kecil (Undang-Undang No.9/1995 tentang Usaha Kecil)
Aset lebih kecil dari Rp.200 Juta diluar tanah dan bangunan. Omzet tahunan lebih kecil dari Rp.1 milyar. Dimiliki oleh orang Indonesia independen, tidak terafiliasi dengan usaha menengah, besar. Boleh berbadan hukum, boleh tidak.

• MENGAPA INDUSTRI KECIL PERLU DIKEMBANGKAN?
Sejak tahun 1983, pemerintah secara konsisten telah melakukan berbagai upaya deregulasi sebagai upaya penyesuaian struktural dan restrukturisasi perekonomian.Kendati demikian, banyak yang mensinyalir deregulasi di bidang perdagangan dan investasi tidak memberi banyak keuntungan bagi perusahaan kecil dan menengah; bahkan justru perusahaan besar dan konglomeratlah yang mendapat keuntungan. Studi empiris membuktikan bahwa pertambahan nilai tambah ternyata tidak dinikmati oleh perusahaan skla kecil, sedang, dan besar, namun justru perusahaan skala konglomerat, dengan tenaga kerja lebih dari 1000 orang, yang menikmati kenaikan nilai tambah secara absolut maupun per rata-rata perusahaan (Kuncoro & Abimanyu, 1995).

Dalam konstelasi inilah, perhatian untuk menumbuhkembangkan industri kecil dan rumah tangga (IKRT) setidaknya dilandasi oleh tiga alasan. Pertama, IKRT menyerapbanyak tenaga kerja. Kecenderungan menerap banyak tenaga kerja umumnya membuat banyak IKRT juga intensif dalam menggunakan sumberdaya alam lokal. Apalagi karena lokasinya banyak di pedesaan, pertumbuhan IKRT akan menimbulkan dampak positif terhadap peningkatan jumlah tenaga kerja, pengurangan jumlah kemiskinan, pemerataan dalam distribusi pendapatan, dan pembangunan ekonomi di pedesaan (Simatupang, et al., 1994; Kuncoro, 1996). Dari sisi kebijakan, IKRT jelas perlu mendapat perhatian karena tidak hanya memberikan penghasilan bagi sebagian besar angkatan kerja Indonesia, namun juga merupakan ujung tombak dalam upaya pengentasan kemiskinan. Di perdesaan, peran penting IKRT memberikan tambahan pendapatan (Sandee et al., 1994), merupakan pengembangan industri dan sebagai pelengkap produksi pertanian bagi penduduk miskin (Weijland, 1999).

• KRITERIA INDUSTRI MENENGAH
Pengertian Industri menengah
Industri sedang atau industri menengah Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 20-99 orang.
Usaha Menengah (Inpres 10/1999) Aset Rp.200 Juta - Rp.10 milyar

Usaha Menengah
(SK Dir BI No.30/45/Dir/UK tgl 5 Jan 1997)
Aset lebih kecil dari Rp.5 milyar untuk sektor industri. Aset lebih kecil dari Rp.600 juta diluar tanah dan bangunan untuk sektor non-industri manufacturing. Omzet tahunan lebih kecil dari Rp.3 milyar.

Segmen Menengah
Skala usaha mulai besar Telah ada struktur organisasi dan delegasi wewenang untuk pengambilan keputusan Administrasi keuangan pada umumnya tertib dan mulai akura ttelah ada pembagian dalam manajemen, Direktur keuangan biasanya mendapat tanggung jawab dalam melakkukan kebijakan pembiayaan perusahaan.

• TENTANG INDUSTRI MENENGAH DI INDONESIA
Perusahaan menengah yang membutuhkan modal investasi antara Rp. 350 juta sampai 1.500 juta. Jumlah perusahaan industri segmen pasar ini, di Indonesia sekitar 1.500 unit usaha. Hampir semua perusahaan sudah mempunyai hubungan dengan bank. Sebagian besar dari perusahaan memerlukan dana untuk memperluas kapasitas produksi maupun modernisasi alat produksinya.

• KRITERIA INDUSTRI BESAR
Pengertian Industri besar
Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 100 orang atau lebih.
• industri besar dengan ciri-ciri sebagai berikut :
1. modal yang digunakan besar, bisa berasal dari pemerintah, swasta nasional, patungan atau modal asing;
2. menggunakan mesin-mesin modern dalam produksinya, tenaga kerja yang digunakan merupakan tenaga kerja terdidik. Yang termasuk industri besar adalah industri kertas, industri pengolahan kayu, industri otomotif dan lain-lain

• TENTANG INDUSTRI BESAR DI INDONESIA
Kebijakan atau strategi pembangunan yang kita anut selama ini lebih berorientasi pada pertumbuhan ekonomi untuk melakukan akumulasi faktor-faktor ekonomi.
Yaitu pertumbuhan industri skala besar dengan harapan bahwa pelaku industri skala besar bisa melakukan kegiatan usaha secara menguntungkan.
Namun, kebijakan itu mengabaikan perkembangan usaha kecil, usaha rakyat. Usaha rakyat diminta bersabar dengan harapan surplus yang diperoleh usaha besar akan diakumulasikan dan diwujudkan dalam dana tabungan untuk kegiatan investasi. Surplus yang diperoleh usaha besar tadinya diharapkan akan mengalir ke kantung-kantung perbankan. Dan perbankan akan menyalurkannya ke sektor usaha kecil untuk kegiatan investasi yang dilakukan pengusaha kecil, selanjutnya diharapkan bisa menggerakkan roda ekonomi pada lapisan bawah.

Dengan strategi pertumbuhan ini diharapkan akan terjadi tetesan ke bawah (trickle down effect) dari usaha besar kepada ekonomi rakyat (usaha kecil). Konsepsi tersebut ternyata tidak teruji oleh sejarah. Perjalanan sejarah kita tidak mengarah kepada kondisi semacam itu. Memang betul terjadi akumulasi oleh kelompok usaha besar namun tidak ada saving (tabungan) yang memungkinkan tersedianya dana untuk investasi.
Kenapa demikian? Karena banyak diantara pengusaha besar lebih tertarik menginvestasikan dananya dalam bentuk asset yang aman, baik dalam bentu fisik seperti mobil atau properti maupun dalam simpanan dolar di luar negeri yang dianggap paling aman sehingga terjadilah capital flight (pelarian modal ke luar negeri). Akibatnya investasi yang diharapkan mengalir ke rakyat banyak tidak terjadi. Inilah fenomena yang berlangsung selama ini sehingga output dari perjalanan panjang sejarah pembangunan ekonomi kita berakhir dengan ketimpangan ekonomi yang sangat mengenaskan dan menjadikan kemiskinan struktural terus menerus berlangsung.

Usaha baru yang cukup besar dimana diharapkan mereka ini berasal dari sektor modern/besar dan terkena PHK kemudian menerjuni usaha mandiri. Dengan demikian mereka ini disertai kualitas SDM yang lebih baik dan bahkan mempunyai permodalan sendiri, karena sebagian dari mereka ini berasal dari sektor keuangan/perbankan. Ditengah krisis industri skala besar dihadapkan pada kenyataan menghadapi kesulitan untuk beroperasi, sementara perusahaan-perusaan kecil tetap berjalan seperti biasa. Bahkan beberapa sektor usaha kecil justru mendapat keuntungan besar akibat depresiasi rupiah terhadap dollar.

Sumber dana sektor usaha besar sebagian diperoleh dari pinjaman luar negeri, sehingga penurunan nilai Rupiah terhadap Dollar mempengaruhi peningkatan biaya bunga yang ditanggung perusahaan.

Industri besar mempunyai keunggulan dan kemapanan dari sisi modal, teknologi dan pasar, maka proses sinergi yang terjadi bukan dalam bentuk mitra bisnis sejajar melainkan tidak lebih dari supplier dan pelanggan. Industri besar biasanya menerapkan aturan baku dalam kualitas. Hal ini sebenarnya sebuah kewajaran mengingat pentingnya menjaga kualitas. Namun demikian, UKM sering kali mengalami kesulitan dalam memenuhi standar tersebut.

• KRITERIA INDUSTRI MIKRO
Pengertian industri Mikro
Usaha Mikro Pekerja lebih kecil dari 20 orang, termasuk tenaga kerja yang tidak dibayar

• Usaha Mikro
(SK Dir BI No.31/24/KEP/DIR tgl 5 Mei 1998) Usaha yang dijalankan oleh rakyat miskin atau mendekati miskin. Dimiliki keluarga. Sumberdaya lokal dan teknologi sederhana. Lapangan usaha mudah untuk exit dan entry.

• TENTANG INDUSTRI MIKRO DI INDONESIA
Industri skala mikro di Indonesia merupakan kegiatan usaha non-formal yang sangatsignifikan jumlahnya dibandingkan dengan usaha skala kecil, menengah, dan besar. Menurut International Finance Corporation (IFC)-World Bank, usaha mikro adalah usaha yang melibatkan jumlah tenaga kerja sampai 10 orang dengan total asset dan penjualan tahunan masing-masing sampai US$100.000. Pengertian usaha skala mikro menurut World Bank tersebut memang belum bisa diadopsi oleh Indonesia karena secara finansial kisaran usaha mikro tersebut tergolong sangat tinggi.
Selain itu, usaha mikro di Indonesia sebagian besar tidak berbadan hukum dan secaraumum sulit untuk mengetahui data keuangan. BPS melaporkan bahwa pada tahun 2000 tercatat 15 juta usaha yang tidak berbadan hukum. Sedangkan menurut data Kementrian Koperasi dan UKM bahwa pada tahun 2004 di Indonesia jumlah usaha skala mikro 41,8 juta, usaha kecil tercatat sebesar 0,588 juta dan usaha menengah 0,062 juta dengan jumlah tenaga kerja yang terlibat 58 juta orang.Jumlah tersebut adalah 99,8 persen dari total usaha di Indonesia dengan pesentase tenaga kerja sebasar 99,6 dari total tenaga kerja. Tetapi dilihat dari produktifitasnya, kontribusi skala mikro dan kecil relative tertinggal dibandingkan usaha menengah apalagi usaha besar.
Terlepas dari masalah perbedaan definisi dan data keuangan, pemberdayaan usaha skalamikro di Indonesia merupakan salah satu alternatif kebijakan yang strategis karena menyangkut hajat hidup orang banyak, terutama dikaitkan dengan arah kebijakan perekonomian yang berorientasi pada ekonomi kerakyatan serta pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah. Salah satu program kebijakan pemerintah dan atau sebagai lembaga donor yang minimal memberikan dukungan terhadap pemberian penjaman atau pembiayaan kepada usaha skala kecil atau masyarakat miskin, yang dikenal dengan micro-finance atau menurut istilah di kalangan perbankan, disebut juga sebagai kredit usaha mikro. Kredit usaha mikro adalah kredit yang diberikan kepada nasabah usaha mikro, baiklangsung maupun tidak langsung, yang dimiliki dan dijalankan oleh penduduk miskin atau mendekati miskin dengan kriteria penduduk miskin menurut Bank Indonesia dengan plafon kredit maksimal sebesar Rp. 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah).
Salah satu pihak yang mempunyai posisi strategis dalam pemberdayaan usaha skalamikro adalah lembaga keuangan mikro (Micro-Finance Institution, yang selanjutnyadisingkat MFI). Selama ini MFI merupakan salah satu lembaga pembiayaan yang bergerak khusus di sektor usaha skala mikro. Padahal secara fungsional MFI sama saja dengan lembaga keuangan lainnya seperti bank, modal ventura, atau lembaga pembiayaan lainnya.
Posisi MFI di Indonesia menjadi sentral karena sampai saat ini bank atau lembagakeuangan formal belum “melirik” usaha skala mikro atau usaha non-formal yang relatif masih dimarginalkan. Sebagai lembaga yang profit oriented, sebagian besar bank atau lembaga keuangan formal lainnya masih menganggap skala mikro merupakan segmen pasar yang tidak bankable atau kalaupun disentuh bank hanya sebatas kewajiban sosial yang tergantung desakan pemerintah. Mengingat kekhususan pangsa pasarnya, MFI mempunyai karakteristik yang relatif berbeda jika dibandingkan dengan lembaga keuangan formal. CGAP-World bank sendiri pada tahun 2003 telah mendefinisikan beberapa istilah, rasio, dan penyesuaian mengenai aspek keuangan yang khusus untuk keuangan mikro.
Salah satu sifat usaha mikro adalah kemampuannya untuk beradaptasi terhadapperubahan kondisi perekonomian dunia dibandingkan dengan perusahaan besar, oleh karenanya usaha mikro akan cenderung lebih diuntungkan oleh pertumbuhan ekonomim yang dinamis. Lingkungan terbaik untuk pengembangan bisnis usaha mikro adalah suatu lingkungan dimana pasar untuk input dan output berfungsi secara efektif dalam menyediakan berbagai jasa yang memungkinkan pertumbuhan bisnis. Dalam lingkungan ini, pemerintah seyogyanya terfokus pada fungsi intinya secara efisien dari pada membuat distorsi dalam pasar . Pengalaman baru diberbagai negara industri menunjukan bawa kebijakan deregulasi telah berhasil mendorong pertumbuhan lapangan kerja, lingkungan yang kondusif dan kompetitif bagi usaha mikro yang berperan sebagai motorpengerak penyesuaian dan perubahan struktural.

• PENGEMBANGAN INDUSTRI MIKRO.
Kebijakan pengembangan industri mikro yang efektif hendaknya dilakukan secara
lebih luas dan terpadu, bukan hanya sekedar membuat daftar program dukungan finansia dan teknis yang berdiri sendiri tanpa adanya kaitan antara satu dengan yang lain Kebijakan pengembangan industri mikro memerlukan pengkajian dan reorientasi peran pemerintah dalam banyak aspek. Kebijakan pemerintah yang baik merupakan salah satu isu sentral dalam pengembangan industri usaha mikro yang berkesinambungan, untuk itu perlu penyempurnaan kebijakan pengembangan usaha mikro oleh pemerintah Pengaturan pemerintah dan implementasinya sangat mempengaruhi akses usaha mikro Ketidakpastian hukum akan membuat distorsi dalam pengambilan keputusan akan menyulitkan pengembangan usaha mikro terutama dalam menghadapi pasar yang berkembang dengan dinamis.

Langkah-langkah khusus untuk mempromosikan industri mikro hanya akan merupakan hal yang semu saja jika tidak dilakukan secara terpadu. Ada beberapa bidang kebijakan prioritas yang perlu dilakukan perbaikan antara lain; penciptaan dan pemeliharaan stabilitas ekonomi makro, reformasi sistim peradilan, serta alih peran penting dalam pengembangan usaha kecil..

Pemerintah dalam mengembangkan usaha mikro perlu menerapkan kebijakan dan program secara transfaran dan bertanggung jawab. Stimulasi yang diberikan untuk meningkatkan daya saing secara teknis maupun finansial dinilai tidak dapat langsung mengatasi hambatan-hambatan eksternal maupun internal yang dialami oleh sebagian besar atau bahkan seluruh usaha mikro, kecil dan menengah di Indonesia. Sebaiknya peran pemerintah adalah menciptakan insentif dan iklim yang kondusif agar usaha mikro mampu menghadapi persaingan. Secara praktis, hal ini berarti membangkitkan upaya untuk menghilangkan monopoli dan menghapuskan berbagai hambatan perdagangan dalam negeri dan internasional. Dengan meningkatnya peluang bisnis dan akses kepada sumberdaya produktif akan meningkatkan daya saing dan kemampuan berwiraswasta. Instrumen pengaturan juga perlu melihat pada standarisasi dan sertifikasi, serta piranti tidak langsung seperti peningkatan akses informasi dan pelatihan yang relevan.
Pengembangan usaha mikro secara terpadu untuk meningkatkan daya saing dan akses usaha mikro ke sumberdaya produktif perlu dilakukan melalui kebijakan bidang: pengembangan infrastuktur, pembangunan daerah, komunikasi serta angkutan, riset terapan dan pendidikan, promosi, perdagangan dan investasi. Otonomi daerah juga menyebabkan peran dan tugas pemerintah kabupaten/kota dan propinsi lebih meningkat , sehingga masih perlu kajian lebih lanjut untuk melihat labih jauh tentang peran dan fungsi pemerintah pusat dan daerah untuk mengetahui batas peran dan fungsi masing-masing serta mencegah terciptanya peraturan yang menghambat perdagangan antar daerah. Disamping itu penyediaan informasi yang konsisten, komprehensif dan terintegrasi untuk pengambilan kebijakan politik dan bisnis masih perlu ditingkatkan.


Share


ACTUATING DAN CONTROLLING

MAKALAH
MANAJEMEN
ACTUATING DAN CONTROLLING

kepemimpinan merupakan kemampuan yang di punyai sesorang untuk mempengaruhi orang-orang laim agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Pemimpin yang efektif mempunyai sifat-sifat atau kualitas tertentu yang diinginkan, sebagai contoh, karisma, berpandangan kedepan, Intensitas dan keyakinan diri.

ACTUATING DAN CONTROLLING
KEPEMIMPINAN
( LEADERSHIP )

kepemimpinan merupakan kemampuan yang di punyai sesorang untuk mempengaruhi orang-orang laim agar bekerja mencapai tujuan dan sasaran. Pemimpin yang efektif mempunyai sifat-sifat atau kualitas tertentu yang diinginkan, sebagai contoh, karisma, berpandangan kedepan, Intensitas dan keyakinan diri.

Menurut stoner kepemimpinan manajerial dapat didefinisikan sebagai suatu proses pengarahan dan pemberian pengaruh pada kegiatan-kegiatan dari sekelompok anggota yang saling berhubungan tugasnya.

Pendekatan studi kepemimpinan sekarang di dasarkan pada pandangan situasional yaitu pandangan yang menganggap bahwa kondisi yang menentukan efektifitas kepemimpinan bervariasi dengan situasi tugas-tugas yang dilakukan, ketrampilan dan pengharapan bawahan, lingkungan organisasi, pengalaman masa lalu pemimpin dan bawahan.

Sifat-sifat kepemimpinan efektif menurut Edwin Ghiselli :
1. Kemampuan dalam kedudukannya sebagai pengawas.
2. Kebutuhan akan prestasi dalam pekerjaan.
3. Kecerdasan.
4. Ketegasan.
5. Kepercayaan diri.
6. Inisiatif.

Sifat-sifat kepemimpinan menurut Keith Davis :
1. Kecerdasan.
2. Kedewasaan dan keluasan hubungan sosial.
3. Motivasi diri dan dorongan berprestasi.
4. Sikap-sikap hubungan manusiawi.

Fungsi-fungsi kepemimpinan :
1. Berhubungan dengan tugas ( task related )
Pemberian saran penyelesaian, informasi dan pendapat.
2. Berhubungan dengan pemeliharaan kelompok ( group maintenance )
Persetujuan dengan kelompok lain, penengahan perbedaan pendapat.

Gaya-gaya Kepemimpinan
1. Gaya dengan Orientasi tugas ( task oriented )
Manajer mengarahkan dan mengawasi keryawan untuk menjamin bahwa tugas dilaksanakan sesuai keinginan.

2. Gaya dengan Orientasi karyawan ( employee oriented )
Manajer memotivasi bawahan dibanding mengawasi mereka, memberikan kesempatan bawahan untuk berprestasi dalam pembuatan keputusan.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Kepemimpinan.
Menurut Mary Parker Fallett.
1. Pemimpin
2. Pengikut atau bawahan
3. Situasi

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Gaya Kepemimpinan manajer
Menurut Robert Tannenbaum dan Warren H :

- Kekuatan dalam diri manajer
1. Sistem nilai.
2. Kepercayaan terhadap bawahan.
3. Kecenderungan kepemimpinannya sendiri.
4. Perasaan aman dan tidak aman.

- Kekuatan dalam diri para bawahan
1. Kebutuhan akan kebebasan.
2. Kebutuhan akan peningkatan tanggung jawab.
3. Apakah mereka tertarik dalam dan mempunyai keahlian untuk penanganan masalah.
4. Harapan mengenai Keterlibatan dalam pembuatan keputusan.

- Kekuatan dari situasi
1. Tipe organisasi
2. Efektifitas kelompok
3. Desakan waktu
4. Sifat masalah itu sendiri

PERUBAHAN ORGANISASI
Kekuatan Eksternal Penyebab Perubahan
1. Kenaikan biaya dan kelangkaan berbagai SDA
2. Keamanan karyawan
3. Boikot pelanggar
4. Tingkat bunga yang tinggi
5. Tingkat pendidikan yang lebih tinggi dalam pasar tenaga kerja.

Kekuatan Internal Penyebab Perubahan
1. Tujuan
2. Strategi
3. Kebijaksanaan manajerial dan teknologi baru
4. Sikap dan perilaku para karyawan

Penanganan Perubahan Organisasi
1. Proses perubahan reaktif
Manajer bereaksi atas tanda-tanda bahwa perubahan dibutuhkan, pelaksanaan modifikasi sedikit demi sedikit menangani masalah.

2. Proses perubahan yang direncanakan ( Planned Change ) / Proses Proaktif
Pelaksanaan berbagai Investasi waktu dan sumber daya lainnya yang berarti untuk mengubah cara-cara operasi organisasi.

Reaksi terhadap Perubahan
1. Orang mungkin menyangkal bahwa perubahan sedangkan terjadi.
2. Orang mungkin mengabaikan perubahan.
3. Orang mungkin menolak perubahan.
4. Orang mungkin menerima perubahan dan menyelesaikan.
5. Orang mungkin mengantisipasi perubahan dan merencanakan

Sumber umum penolakan terhadap perubahan
1. Ketidak pastian tentang akibat dan pengaruh perubahan.
2. Ketidak sediaan untuk melepaskan keuntungan-keuntungan yang ada.
3. Pengetahuan akan kelemahan-kelemahan dalam perubahan yang diusulkan.

Penanggulangan Penolakan Terhadap Perubahan menurut Kotter dan Schlesinger
1. Pendidikan dan komunikasi
2. Partisipasi dan keterlibatan
3. Kemudahan dan dukungan
4. Negosiasi dan persetujuan
5. Manipulasi dan kerja sama
6. Paksaan eksplisit dan implisit

Tahap-tahap Proses Perubahan
1. Tekanan dan desakan
Di sebabkan karena adanya berbagai masalah seperti penurunan penjualan, penurunan produktifitas.

2. Intervensi dan reorientasi
Pihak luar sering digunakan untuk merumuskan masalah dan memulai proses dengan membuat para anggota organisasi untuk memusatkan perhatian pada masalah tersebut.

3. Diagnosa dan pengenalan masalah
Informasi di kumpulkan dan dianalisis oleh pengantar perubahan.

4. Penemuan dan komitmen pada penyelesaian
Penyelesaian di ketemukan melalui pengembangan secara kreatif alternatif-alternatif baru dan masuk akal.

5. Percobaan dan pencarian hasil-hasil
Penyelesaian yang di kembangkan diuji dalam program berskala kecil dan hasilnya dianalisis.

6. Penguatan dan penerimaan
Pelaksanaan kegiatan yang diterima harus menjadi sumber penguatan dan menimbulkan keterlibatan pada perubahan.

Pendekatan Perubahan menurut Harold J. Leavitt
1. Pengubah struktur
Menyangkut modifikasi dan pengatur kembali berbagai system Internal.

2. Pengubahan teknologi
Modifikasi faktor-faktor seperti peralatan, proses teknik dll.

3. Pengubahan orang-orang, mencangkup.
- Kebijaksanaan dan prosedur penarikan dan seleksi
- Kegiatan latihan dan kepemimpinan
- Sistem balas jasa
- Ketrampilan kepemimpinan
- Sikap, kepercayaan

PENGEMBANGAN ORGANISASI
Definisi :
1. Menurut Warner Burke, yaitu suatu proses perubahan dalam budaya organisasi melalui penggunaan teknologi, riset dan teori ilmiah keperilakuan.
2. Menurut Edgar Schein, yaitu seluruh kegiatan yang disusun oleh para manajer, karyawan dan lain-lain yang diarahkan menuju pembuatan dan penjagaan organisasi sebagai suatu sistem total.

Teknik-teknik Pengembangan Organisasi
1. PO untuk perseorangan
Contoh: Latihan sensitifitas
2. PO untuk dua atau tiga orang
Contoh: analisa transaksional
3. PO untuk tim, atau kelompok
Contoh: pembentukan tim
4. PO untuk hubungan antar kelompok
Contoh: pertemuan ( rapat ) konfrontasi
5. PO untuk organisasi keseluruhan
Contoh: teknik survai umpan balik

MANAJEMEN KONFLIK

Penyebab adannya konflik.
1. Komunikasi : Salah pengertian atau informasi yang kurang lengkap
2. Struktur : Pertarungan kekuasaan antar departemen, persaingan untuk
memperebutkan sumber daya yang terbatas, adanya saling
ketergantungan.
3. Pribadi : Perbedaan tujuan, nilai-nilai sosial pribadi atau persepsi.

Jenis-jenis Konflik:
1. Konflik dalam diri Individu
Adanya ketidak pastian pekerjaan, individu di harapkan untuk bekerja melebihi kemampuan.


2. Konflik antar Individu
Adanya perbedaan-perbedaan kepribadian ( manajer dan bawahan )

3. Komflik antar Individu dan kelompok
Cara individu menanggapi tekanan untuk keseragaman yang dipaksakan oleh kelompok kerja.

4. Konflik antar kelompok
Terjadi pertentangan kepentingan antar kelompok

5. Konflik antar organisasi
Timbul akibat persaingan ekonomi dalam sistem perekonomian suatu negara.

Penyelasaian Konflik
1. Dominasi dan penekanan
Cara : kekerasan, penenangan, penghindaran, aturan mayoritas.

2. Kompromi
Bentuk : pemisahan, arbitrasi ( perwasitan ), penyuap.

3. Pemecahan masalah integratif
Di selesaikan melalui teknik-teknik pemecahan masalah. Manajer mendorong bawahan bekerjasama untuk mencapai tujuan bersama, pertukaran gagasan, pencarian penyelesaian.

3 jenis Metode penyelesaian Konflik Integratif.
1. Konsensus : pihak yang bertentangan bertemu mencari penyelesaian
2. Konfrontasi : pihak yang saling berhadapan menyatakan pendapatnya secara langsung satu sama lain dan dengan adanya kesediaan menerima penyelesaian, maka penyelesaian konflik dapat ditemukan.
3. Penggunaan tujuan-tujuan yang lebih tinggi : apabila tujuan tersebut di setujui bersama.

KONFLIK STRUKTURAL
4 daerah struktural timbulnya konflik:
1. Konflik hierarki : konflik antara berbagai tingkatan organisasi.
2. Konflik fungsional : konflik antara berbagai departemen fungsional organisasi.
3. Konflik lini-staf : konflik antara lini dan staf.
4. Konflik formal-informal : konflik antara organisasi formal dan informal.

ACTUATING DAN CONTROLLING
PENGAWASAN
( CONTROLLING)

Definisi menurut Robert J. Mockler,
Pengawasan manajemen adalah suatu usaha sistematik untuk menetapkan standar pelaksanaan dengan tujuan-tujuan perencanaan, merancang sisten informasi umpan balik, membandingkan kegiatan nyata dengan standart yang telah ditetapkan sebelumnya, menentukan dan mengukur penyimpangan. Penyimpangan, serta mengambil (tindakan koreksi yang diperlukan untuk menjamin bahwa semua sumber daya perusahaan di pergunakan dengan cara paling efektif dan efisien dalam pencapaian tujuan-tujuan perusahaan.

Tipe-tipe Pengawasan
1. Pengawasan pendahuluan (feed forward control)
untuk mengantisipasi masalah-masalah atau penyimpangan-penyimpangan tujuan dan memungkinkan koreksi di buat sebelum suatu tahap kegiatan tertentu di selesaikan.
2. Pengawasan yang di lakukan bersamaan dengan pelaksanaan kegiatan
proses dimana aspek tertentu dari suatu prosedur harus disetujui dulu, atau syarat tertentu harus dipenuhi dulu sebelum kegiatan-kegiatan bias dilanjutkan.
3. Pengawasan umpan balik (feedback control)
mengukur hasil-hasil dari suatu kegiatan yang telah diselesaikan. Pengawasan ini bersifat historis, pengukuran dilakukan setelah kegiatan terjadi.

Tahap-tahap Proses Pengawasan
1. Penetapan standar
Dapat dilihat dari tujuan, sasaran, kuota, target pelaksanaan, target penjualan, anggaran, marjin keuntungan, keselamatan kerja, sasaran produksi

Bentuk-bentuk Standar Umum:
a. Standar-standar fisik, meliputi kuantitas barang/jasa, jumlah langganan, kualitas.
b. Standar-standar moneter, meliputi biaya tenaga kerja, biaya penjualan, laba kotor dll.
c. Standar-standar waktu, meliputi kecepatan produksi atau batas waktu suatu pekerjaan harus diselesaikan.
2. Penentuan Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan

Mencangkup berapa hal, antara lain:
a. How often, berapa kali pelaksanaan seharusnya di ukur.
b. What from, dalam bentuk apa pengukuran akan dilakukan.
c. Who, siapa yang akan terlibat.
3. Pengukuran Pelaksanaan Kegiatan

Adapun caranya melalui:
1. Pengamatan (observasi)
2. Laporan-laporan lisan dan tertulis
3. Metoda-metoda otomatis
4. Inspeksi, pengujian (tesi)
4. Pembandingan pelaksanaan dengan Standar dan Analisis Penyimpangan

Penyimpangan-penyimpangan harus dianalisa untuk menentukan mengapa standar tidak dapat dicapai.
5. Pengambilan Tindakan Koreksi Bila Diperlukan
Tindakan koreksi dapat diambil dalam berbagai bentuk. Standar mungkin di ubah, pelaksanaan diperbaiki, atau di lakukan bersamaan.

Karakteristik Pengawasan yang Efektif
1. Akurat
2. Tepat waktu
3. Objektif dan menyeluruh
4. Terpusat pada titik-titik pengawasan strategi
5. Realistik secara ekonomi
6. Realistik secara organisasional
7. Terkoordinasi dengan aliran kerja organisasi
8. Fleksibel’
9. Bersifat sebagai petunjuk dan operasional
10. Diterima para anggota organisasi

Metode Pengawasan
1. Metode Kuantitatif
a. Anggaran ( budget )
- anggaran operasi, anggaran pembelanjaan modal, anggaran penjualan, anggaran kas
- anggaran khusus, seperti planning programming, bud getting system (PBS), zero-base budgeting ( ZBB ), dan human resource accounting ( HRA )
b. Audit
- Internal Audit
Tujuan : membantu semua anggota manajemen dalam melaksanakan tanggung jawab mereka dengan cara mengajukan analisis, penilaian, rekomendasi dan komentar mengenai kegiatan mereka.
- Ekternal Audit
Tujuan : menetukan apakah laporan keuangan tersebut menyajikan secara wajar keadaan keuangan dan hasil perusahaan, pemeriksaan dilakasanakan oleh pihak yang bebas dari pengaruh manajemen.
C. Analisis Break Even Point
Menganalisa dan menggambarkan hubungan biaya dan penghasilan untuk menentukan pada volume berapa agar biaya total sehingga tidak mengalami laba atau rugi.
D. Analisa Rasia
Menyankut dua jenis perbandingan
1. Membandingkan rasia saat ini dengan rasia-rasia dimasa lalu
2. Membandingkan rasia-rasia suatu perusahaan dengan perusahaan lain yang sejenis
E. Bagian dari Teknik yang berhubungan dengan waktu pelaksanaan kegiatan, seperti :
1. Bagan Ganti
Bagan yang mempunyai keluaran disatu sumbu dan satuan waktu disumbu yang lain serta menunjukan kegiatan yang direncanakan dan kegiatan yang telah diselesaikan dalam hubungan antar setiap kegiatan dan dalam hubunganya dengan waktu.
2. Program Evaluation and Reviw Technique (PERT)
Dirancang untuk melakukan scheduling dan pengawasan proyek – proyek yang bersifat kompleks dan yang memerlukan kegiatan – kegiatan tertentu yang harus dijalankan dalam urutan tertentu dan dibatasi oleh waktu.

Komponen-komponen PERT adalah :
1. Peristiwa (Event)
2. Kegiatan (Activity)
3. Waktu kegiatan (Activity Time)
a. Waktu optimis
b. Waktu realistik
c. Waktu pesimis
4. Critical Path Method (CPM)
Mengoptimalkan biaya total proyek melalui “Trade Off” antara estimasi waktu, normal atau “Crash”, dengan biaya

DAFTAR PUSTAKA

Handoko T. Hani, Manajemen, edisi kedua, BPFE – Yogyakarta, 1984.



Share


TEKNIK ANALISIS

Agar data yang dikumpulkan tersebut dapat bermanfaat, maka harus diolah dan dianalisis terlebih dahulu sehingga dapat dijadikan dasar dalam pengambilan keputusan, maka teknik analisis yang digunakan adalah :

A. Uji Validitas dan Reliabilitas.
1. Uji Validitas
Uji validitas adalah suatu taraf dimana alat pengukur dapat mengukur apa yang seharusnya diukur, sehingga suatu penelitian yang menggunakan kuesioner sebagai alat pengukurnya perlu diuji validitasnya.

Apabila angka r hitung dan r tabel, maka penelitian dikategorikan valid. Dan bila sebaliknya, r hitung  0.60 (Imam Ghozali, 2001: 140).

B. UJI ASUMSI KLASIK
1. UJI MULTIKOLINIERITAS
Uji multikolinieritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya kolerasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Jika variable bebas saling berkolerasi, maka variabel-variabel ini tidak orthogonal. Variabel orthogonal adalah variabel bebas yang nilai korelasi antar sesama variabel bebas sama dengan nol. Multikolinieritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan Variance Inflation Factor (VIF). Regresi bebas, dari Multikolinieritas apabila nilai toleransinya di alas 0,0001 dan V1F kurang dari 5 (Santoso, 2000: 281) Imam Ghozali (2001:64) mengatakan bahwa nilai VIF muitikoloneritas adalah kurang dari 10 dan tolerance mendekati 1.

2. UJI HETEROSKEDASTISITAS
Uji Heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika Variance dari residual satu pengamatan ke pengamatam yang lain tetap, maka disebut homokedastisitas dan jika berbeda Heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang homokedastisitas atau tidak terjadi Heteroskedastisitas.
Cara untuk mendeteksinya adalah dengan cara melihat grafik plot antara nilai, prediksi variabel terikat (Z-PRED) dengan residualnya (SRESID). Deteksi ada tidaknya Heteroskedastisitas dapat dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentn pada grafik scaterplot antar SRESID dan ZPRED dimana sumbu Y adalah Y yang telah diprediksi dan sumbu X adalah residual (Y pred - Y sesunggunya yang telah distudentized.

1. Jika ada pola tertentu seperti titik-titik yang ada membentuk pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit jika)

2. Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik-titik menyebar diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

3. UJI NORMALITAS
Uji normalitas bertujuan intuk menguji apakah dalam model regresi variabel terikat dan variabel bebas keduanya mempunyai distribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adatah memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.
Caranya adalah dengan melihat normal probability plot yang membandingkan distribusi komulatif dari data sesiungguhnya dengan distribusi komulatif dari distribusi normal. Distribusi normal akan membentuk satu garis lurus diagonal, dan pioting data akan dibandingkan dengan garis diagonal. Jika distribusi data adalah normal, maka garis yang menggambarkan data sesungguhnya akan mengikuti garis diagonalnya.

C. ANALISIS REGRESI BERGANDA
Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh varibel bebas yaitu X, X2 dan X3 terhadap variabel terikat yaitu Y.

Rumus : V = a + blXl+ b2 X2 + b3 X3 + c
Y = Kinerja Karyawan (variabel terikat)
a = konstanta
b1 = koefisien regresi dari XI
Xi = Frekuensi X1 (variabel bebas)
bs = koefisien regresi dari X2
Xi = frekuensi X2 (variabel bebas)
b3 = koefisien regresi dari X3
X3 = frekuensi X3 (variabel bebas)
e = Variabel lain selain variabel yang diteliti

D. UJI t
Untuk menguji variabel yang berpengaruh antara Xl, X2 dan X3 terhadap variabel terikat yaitu Y, secara parsial. T hitung diperoleh dan hasil pengolahan data SPSS tabel COEFFICIENTS. Hipotesa yang akan diuji dengan taraf nyata = 5%
Ho: p = 0, Tidak ada pengaruh antara Xl, X2 dan X3 terhadap variabel terikat yaitu Y
Ha: P ≠ 0, Ada pengaruh antara Xl, X2 dan X3 terhadap variabel terikat yaitu Y. Dasar pengambilan keputusan

1. Bila statistik t hitung <> statistik t tabel, maka Ho ditolak atau H1 diterima Atau:

1. Bila probabilitas t > 0,05 maka HO diterima
2. Bila probabilitas t < df =" n" n =" banyak" k =" banyak"> statistik f tabel, maka Ho ditolak atau H diterima

F. KOEFISIEN DETERMINAN (R2)
Koefisien determinan pada intinya mengukur seberapa Jauh kemampuan model dalam menerangkan variasi variabel terikat. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Nilai R2 yang kecil berarti kemampuan variabel-variabel bebas dalam menjelaskan variasi variabel terikat sangat terbatas. Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel bebas memberikan hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel terikat.
Koefisien Determinasi digunakan untuk mengukur prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat dapat dilihat dengan rumus = R2 x 100%,

RELIABILITY ANALYSIS
Klik Analyze
Klik Scale
Klik Reliability Analysis
Semua Variabel (item) dipindahkan ke kanan
Caranya semua variabel (item) di blok klik tanda
Klik Statistics
Pada Descriptives for, klik Scale if item deleted
Pada Summaries, Klik Covariances
Pada Anova Table, Klik Friedman Chi Square
Klik Continue
Klik Ok


Share


USAHA WARALABA

ANALISIS USAHA WARALABA
INDOMART

Pendahuluan
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Karena dengan rahmat dan hidayahnya laporan tentang analisis usaha waralaba Indomart dapat di selesaikan dengan baik. Laporan ini di susun untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan mata kuliah manajemen Pemasaran II pada UDINUS Program Manajemen Strata 1.

Dalam laporan analisis ini membahas tentang analisis terhadap jenis usaha wakalaba Indomart yang akhir-akhir ini menjadi waralaba lokal terbesar dari negri ini.
Semoga dengan tulisan yang masih terbatas ini dapat menjadi pertimbangan bagi anda yang ingin memulai dengan modal besar.

ANALISIS USAHA

Jenis Usaha : Waralaba
Nama Usaha : Indomart

A. Analisis Situasi ( SWOT )
1. Sthreght ( kekuatan )
Usaha jenis waralaba biasanya sudah banyak di kenal oleh masyarakat. Sebuah usaha sampai bisa membuka cabang pastilah usaha tersebut telah mampu meraih sukses, dan salah satunya adalah Indomart.

Meski tidak banyak melakukan promosi Indomart akan mampu menarik konsumen. Karena tidak lepas dari Induknya yang mungkin telah melakukan promosi besar-besaran dan itulah salah satu kekuatan Indomart sebagai jenis usaha waralaba.

2. Weaknesess ( kelemahan )
Sebagai pengusaha terwaralaba ( pembeli waralaba ) kita harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan pihak pewaralaba ( pemberi waralaba ), dan itu juga berlaku di Indomart. Kita tidak bebas mengatur usaha kita sendiri. Pihak pewaralaba akan menentukan tempat usaha, produk-produk, jam operasi sampai tata ruang. Maka tidak heran interior Indomart mempunyai kemiripan dan jam operasi yang sama di semua cabang. Bukan itu saja kita juga di haruskan ”membeli” nama Indomart dan membayar royalti yang telah di tetapkan pihak pewaralaba.

3. Opportunities
Dengan nama yang telah mapan maka peluang berhasil dalam usaha ini akan lebih besar. Indomart sebagai waralaba yang telah sukses bahkan menurut sebagian pengamat merupakan jenis waralaba lokal terbesar pastilah sudah mendapat tempat di hati konsumen.

4. Threats ( ancaman )
Dalam prakteknya Indomart akan berhadapan langsung dengan Alfamart, jenis usaha yang sama dengan induk berbeda yang juga mulai menuai sukses. Belum lagi Minimarket-minimarket milik perseorangan maupun kelompok yang mungkin saja berada di sekitar lokasi usaha. Namun menurut data-data Indomart terbukti mampu mengungguli para pesaingnya.

B. Analisis STP
1. Segmentasi
Dengan harganya yangrelatif lebih lebih murah dari harga pasar yang jenis produknya yang mempunyai harga terjangkau, Indomart mengajar konsumen kalangan ekonomi menengah ke bawah. Meski tidak menutup kemungkinan kalangan ekonomi atas juga menjadi pelanggan Indomart, karena mungkin saja letak lokasinya yang dekat dengan tempat tinggal ataupun dengan alasan lain.

2. Target
Indomart mentargetkan semua kalangan. Karena Indomart menawarkan beberapa keb utuhan mulai dari keperluan bayi, anak, dewasa sampai oang tua Indomart juga menyediakan kebutuhan rumah tangga. Dan bagi konsumen yang ingin belanja praktis tidak perlu jauh-jauh ke Supermarket, karena Indomart biasanya terletak tidak jauh dari perumahan.

3. Posisi
Meski dikelilingi banyak pesaing mulai dari Minimarket perseorangan maupun kelompok, waralaba sejenis, sampai Supermarket yang terlebih dulu eksis namun Indomart kemungkinan besar telah memiliki tempat di benak konsumen, sehingga mampu bersaing dengan yang lain.


Share



Cari Skripsi | Artikel | Makalah | Panduan Bisnis Internet Disini

Custom Search
 

Mybloglog

blogcatalog

Alphainventions.com

Followers

TUGAS KAMPUS Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template